DESKRIPSI MASALAH :
Mengetahui dan memahami sejarah penting bagi manusia, sehingga di dalam Al-Qur’ān dan As-Sunnah An-Nabawiyyah banyak disebutkan sejarah masa lalu. Bahkan terdapat surah dalam Al-Qur’ān yang menceritakan sejarah seorang Nabi secara lengkap sejak masa kecilnya hingga menjadi sorang penguasa negerinya yakni surah Yusuf. Bagi generasi berikutnya, mengenang sejarah, apalagi mengenang sejarah Nabinya merupakan suatu keharusan.
PERTANYAAN :
Bagaimana hukum berdiri ketika pelaksanaan peringatan maulid Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam ?
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Berdiri di tengah-tengah pembacaan kitab maulid Rassulillah Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam tidak hanya dilakukan di Indonesia serta bukan bentuk yang baru dikenal, tetapi ia dilakukan di mana-mana sejak dulu sudah berabad-abad lamanya, turun-temurun dari satu generasi ke generasi sesudahnya. Dalam kitab Hāsyiyah I‘ānah Ath- Thālibīn dijelaskan sebagai berikut :
جَرَتِ الْعَادَةُ أنَّ الناسَ إذَا سَمِعُوا ذِكْــرَ وَضْعِه صَلَّى اللهُ عليْه وسلَّمَ يَقُوْمُوْنَ تَعْظِيْمًا لَهُ صلَّى اللهُ عليْه وسلَّمَ، وَهذا القِيَامُ مُسْتَحْسَنٌ لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ النَّبِيِّ صلَّى اللهُ عليْه وسلَّمَ، وَقَدْ فَعَلَ ذلِكَ كـثِــيْرٌ مِنْ عُلَمَاءِ الأُمَّةِ الذِيْنَ يُقْتَدَى بِهِمْ.[1].
“Sudah menjadi tradisi bahwa ketika mendengar detik-detik kelahiran Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam disebutkan, orang-orang berdiri sebagai bentuk penghormatan kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam. Berdiri ini didasarkan pada istihsan (penilaian baik) karena padanya terdapat penghormatan bagi Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam. Dan hal ini telah dilakukan banyak ulama terkemuka yang diikuti sebagai panutan.”
Sikap berdiri dalam mengenang kalahiran baginda Rasulullah ketika dinilai baik, tentu membutuhkan dalil dan argumen yang dapat menguatkannya. Sayyid Muhammad bin ‘Alawī Al-Mālikī Al-Hasanī dalam salah satu karyanya telah menjelaskan, setidaknya ada 5 dalil yang dapat menguatkan sikap di atas, yaitu :
- Sikap berdiri dinilai baik dan telah diamalkan oleh para ulama’ pada tiap generasi sebagai bentuk hormat dan memuliakan manusia paling mulia yang dikisahkan dalam peringatan maulid. Penilaian ulama dapat dijadikan hujjah berdasarkan hadis Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallāhu ‘anhu sebagai berikut :
فَمَا رَأَى المُسْلِمُوْنَ حَسَنًا؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا؛ فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ.
“Apa yang diniai baik oleh ‘ulama Islam, di sisi Allah itu hal yang baik, dan apa yang dinilai mereka jelek, maka di sisi Allah ia merupakan hal yang jelek”
- Berdiri untuk menghormat orang yang pantas dimuliakan itu disyariatkan dalam Islam berdasarkan penjelasan hadis-hadis Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam. Imam An-Nawawī telah menulis risalah khusus tentang hal ini dan Imam Ibnu Hajar menuliskan secara baik – sebagai balasan kepada pihak yang berani mengkritisi kitab An-Nawawi tersebut – dalam kitab beliau “رَفْعُ الملامِ عَنِ القَائِلِ بِاسْتِحْسَانِ الْقِيَامِ”
- Terdapat hadis Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan sahabatnya untuk berdiri ketika melihat kedatangan seorang pemuka bangsa yakni sahabat Sa’d bin Mu’ādz radhiyallāhu ‘anhu. Hadis tersebut berbunyi :
قُوْمُوْا إِلى سَيِّدِكُمْ
“berdirilah kalian untuk menghormat tokoh bangsa kalian”
- Sikap memuliakan tamu telah ditunjukkan Rasulullah dengan cara berdiri. sikap berdiri ini pula dilakukan beliau ketika kedatangan puteri beliau, Fathimah radhiyallāhu ‘anhā.
- Mengenang kembali kisah kelahiran baginda Nabi Muhammad adalah hal penting dilakukan, berdiri ketika mengenang detik-detik kelahiran beliau dapat menambah kecintaan dan dapat menghadirkan pribadi Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam pada tiap diri setiap muslim dan muslimah[2].
Ketika Islam melalui sikap Rasulullah Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam menjadikan berdiri itu sebagai bentuk cara menghormati dan memuliakan, tentu beliau lebih pantas dimuliakan dengan cara serupa. Sehingga, tidak ada alasan meninggalkan sikap berdiri dalam pelaksanaan peringatan maulid Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wasallam selama berdiri itu dinilai sebagai tradisi, bukan sebagai ritual agama seperti ritual sholat misalnya. Hal ini harus mendapat perhatian, karena bisa jadi dengan sikap enggan berdiri dapat merendahkan kemuliaan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam dalam diri, na’ūdzubillāh.
Demikian jawaban dari pertanyaan di atas, semoga bermanfaat, wallāhua’lam.
Dijawab Oleh : Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
[1] Sayid Bakrī Ad-Dimyāthī, Hāsyiyah I‘anatut Thalibin, Juz III (Libanon : Dār Ibn ‘Ash-Shāshah, 2005) Hlm. 414.
[2] Sayyid Muhammad bin ‘Alawī Al-Mālikī Al-Hasanī, Haul Al-Ihtifāl Bidzikrā Al-Maulid An-Nabawī Asy-Syarīf (Kairo : Dār Jawāmi’ Al-Kalim, 1418 H) Hlm 45 – 47.














