Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
Deskripsi Masalah :
Muharram diantara bulan yang penuh makna, berbagai kegiatan dilakukan untuk menyambut kehadiran tahun baru Islam ini. selain kegiatan seremonial, terdapat ibadah berupa puasa sunnah yang dianjurkan bagi ummat Islam melaksanakannya.
Pertanyaan :
Kapankah puasa-puasa di bulan Muharram itu dilaksanakan ?
Jawaban :
Pertanyaan yang baik !
Untuk memulai menjawabnya, perlu diketahui bahwa masuknya awal hari yang menjadi titik perpindahan bulan bahkan tahun dalam Islam itu didasarkan kepada ru’yah al-hilal (ketampakan hilal). Sedangkan hilal awal Muharram ini telah diikhbarkan oleh Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) melalui Pengumuman Nomor: 038/LF–PBNU/VII/2023 yang dikeluarkan pada Selasa (18/7/2023) dengan lokasi yang berhasil melihat hilal ; Condrodipo Gresik, Pondok Pesantren Al-Amin Putri Mojokerto, RSI Siti Hajar Sidoarjo, Denanyar Jombang oleh Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Jombang dan PNPP Kota Pekalongan. Dengan demikian maka 1 Muharram 1445 Hijriyah jatuh pada hari ini (Rabu, 19 Juli 2023).
Berikutnya, diantara tujuan Islam adalah untuk menyempurnakan syari’at yang datang sebelumnya. termasuk puasa ‘Asyuro (hari ke sepuluh bulan Muharram) yang telah dikenal ketika itu. sebagaimana dalam kitab Fiqh as-Sunnah (Jilid 1, bab puasa, hal. 316 -317), disebutkan bahwa Rasulullah menyikapi puasa ‘Asyuro ini dalam beberapa tahap :
Pertama ; pada periode Makkah, Rasulullah berpuasa sendirian tanpa menyuruh sahabatnya
Kedua ; pada periode awal di Madinah, melihat ahlul kitab memuliakan hari ‘Asyuro dan berpuasa pada hari itu, Rasulullah berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa dan tidak pernah meninggalkannya.
Ketiga ; ketika Ramadhan diwajibkan untuk ummat Islam berpuasa, Rasulullah tidak memaksakan diri untuk berpuasa ‘Asyuro’.
Keempat ; di akhir hayatnya, Rasulullah berniat untuk berpuasa sehari sebelum ‘Asyuro yakni hari Tasu’a (hari ke sembilan)
berdasarkan tahapan yang dilalui Rasulullah ini, rupanya Rasulullah di akhir hayatnya menginginkan agar umat Islam melaksanakan puasa sunnah di bulan Muharram tidak sama persis dengan umat lain (ahlul kitab) melaksanakannya, sehingga beliau berkeinginan untuk berpuasa pada hari Tasu’a sekalipun beliau belum sempat melaksanakan puasa tasu’a ini karena beliau wafat sebelum masuknya bulan Muharram yang dimaksud.
Hadis tentang keutamaan berpuasa ‘Asyuro adalah :
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم)
“sungguh Rasulullah saw pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau bersabda “Puasa Asyura melebur dosa-dosa setahun yang telah terlewati (HR Muslim).
adapun dalil puasa sunnah di hari Tasu’a adalah :
لئِنْ بَقِيتُ إلى قابِلٍ، لأَصومَنَّ اليومَ التاسِعَ
“jika aku masih hidup sampai tahun depan, maka sungguh aku benar-benar akan berpuasa pada hari kesembilan (Muhamrram)”. (H.R. Ibnu Majah).
Selain Tasu’a dan ‘Asyuro, mengingat Muharram termasuk diantara 4 (empat) bulan yang dimuliakan dalam Islam tentu dipandang amat baik dan berpahala besar atas tiap ibadah yang dilakukan di dalamnya termasuk ibadah puasa. Maka bagi orang yang berkeinginan untuk memperbanyak puasa, berpuasalah sebanyak hari di bulan Muharram sebagai tindakan mencari kebaikan (التفاؤل) menyambut awal tahun baru Islam, dengan harapan pada tahun ini menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya baik bagi pribadi, masyarakat dan ummat Islam, amiin.














