Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI MASALAH :
Islam datang membawa syaria’t yang moderat dan tidak memberatkan, terbukti pada perkara paling serius – ibadah sholat misalnya – tidak ada pemaksaan dan pemberatan di dalamnya. Orang yang tidak bisa berdiri, maka sholatnya bisa dengan sambil duduk saja. Yang tidak mampu duduk, bisa dengan sholat sambil berbaring dan seterusnya.
PERTANYAAN :
Bolehkah mengikuti imam yang sholatnya dalam keadaan duduk ?
JAWABAN :
Pertanyaan baik ! Seorang yang tidak bisa sholat dengan berdiri, maka dapat melakukannya dengan duduk. Bagi orang yang ingin berjamaah mengikuti imam yang sholatnya duduk ini, hukumnya boleh dan dalam keadaan seperti ini makmum (yang mampu berdiri) tidak boleh memilih sholat dengan cara duduk juga (seperti imamnya). Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab :
قد ذكرنا ان مذهبنا جواز صلاة القائم خلف القاعد العاجز وانه لا تجوز صلاتهم وراءه قعودا
“Telah kami sebutkan bahwa mazhab kami (Syafiiyah) membolehkan bagi makmum yang salat dalam keadaan berdiri untuk berjamaah di belakang imam yang salat dalam keadaan duduk karena tidak mampu berdiri. Dan makmum tidak boleh salat duduk di belakang imam yang salatnya duduk.” (an-Nawawi, al-Majmū’ Syarh al-Muhazdzab Juz IV, Halaman 265)
Penjelasan an-Nawawi ini berdasarkan hadis yang menceritakan peristiwa sholatnya Rasulullah ketika beliau dalam keadaan sakit di akhir hayatnya, di mana beliau selaku imam yang pada waktu itu hanya mampu sholat dalam keadaan duduk, sedangkan para sahabat sholat dalam keadaan berdiri. Adapun hadis dimaksud diceritakan oleh Sayidah Aisyah RA bahwa ketika Rasulullah sakit dan beliau telah menyuruh sahabat Abu Bakr menjadi imam (menggantikan Rasulullah)
فَلَمَّا دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ وَجَدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَفْسِهِ خِفَّةً فَقَامَ يُهَادَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ وَرِجْلَاهُ يَخُطَّانِ فِي الْأَرْضِ حَتَّى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَلَمَّا سَمِعَ أَبُو بَكْرٍ حِسَّهُ ذَهَبَ أَبُو بَكْرٍ يَتَأَخَّرُ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى جَلَسَ عَنْ يَسَارِ أَبِي بَكْرٍ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي قَائِمًا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي قَاعِدًا يَقْتَدِي أَبُو بَكْرٍ بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ مُقْتَدُونَ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
Kemudian ketika Abu Bakar sudah memulai shalat, Rasulullah merasa tubuhnya membaik, beliau pun keluar rumah dengan diapit oleh dua orang laki-laki. Dan seolah aku melihat beliau berjalan dengan menyeret kakinya di atas tanah, hingga masuk ke dalam masjid. Tatkala Abu Bakar mendengar kedatangan beliau maka ia pun berkeinginan untuk mundur. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat kepadanya. Lalu tibalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau duduk di samping kiri Abu Bakar. Abu Bakar shalat dengan bediri sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dengan duduk, Abu Bakar shalat mengikuti shalatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan orang-orang mengikuti shalatnya Abu Bakar.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Demikian penjelasan sholat berjamaah dengan imam yang sholatnya dalam keadaan duduk,Wallāhua’lam.














