Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI MASALAH :
Lupa merupakan sifat manusia. Akibat tidak khusyu’ ketika sholat, lupa kerap menghinggapi fikiran seseorang misalnya lupa melakukan sunnah-sunnah sholat bahkan lupa melakukan rukun tertentu.
PERTANYAAN :
Atas keadaan bagaimana saja disyariatkan melakukan sujud sahwi itu ?
JAWABAN :
Baik ! Dari segi etimologi, kata السهو itu sepadan dengan kata النسيان yang bermakna “lupa”. Hukum melakukan sujud sahwi adalah sunnah. Sehingga apabila seseorang lupa melakukan sujud sahwi, maka tidaklah hal itu membatalkan sholatnya. Sujud sahwi dilakukan setelah tasyahhud akhir sebelum salam. Ia dilakukan seperti sujud sholat yaitu dengan 2 (dua) kali sujud, tidak boleh hanya satu kali sujud saja. Adapun dzikir yang dibaca ketika sujud sahwi adalah :
سُبْحَانَ الذِيْ لَا يَسْهُو وَلَا يَنَامُ
“Maha suci (Allah) Yang tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur”
Namun apabila meninggalkan sunnah-sunnah (ab’adh) itu bukan karena lupa, tetapi karena disengaja, maka mushalli ketika sujud sahwi membaca istighfarاستغفر الله (Hasan bin Ahmad al-Kaff, at-Taqrīrāt as-Sadīdāt fi al-masā’il al-Mufīdah, Juz I, Halaman 267- 268).
Adapun hal-hal yang menjadi sebab dianjurkan melakukan sujud sahwi adalah sebagai berikut :
Pertama ; lupa melakukan sesuatu yang membatalkan shalat bila dilakukan dengan sengaja, seperti seseorang melakukan sholat sebanyak lima raka’at. Abdullah bin Mas’ud menuturkan sebuah hadis :
أنَّ النَّبيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا ، فَقِيلَ لَهُ : أَزِيْدَ في الصَّلاةِ ؟ فسجَدَ سجْدَتَينِ بعدَ ما سَلَّمَ
“Bahwasanya Nabi shalat dzuhur lima rakaat, kemudian Beliau ditanya, “Aapakah shalat dzuhur ditambah rakaatnya ? Kemudian Beliau pun sujud dua kali setelah salam, (H.R. Turmudzi).
Begitu pula ketika menambah satu rukun dalam keadaan lupa seperti seseorang bangun dari raka’at kelima, setelah dalam posisi berdiri kemudian ia ingat dan menyadarinya, maka ia harus kembali ke posisi duduk (untuk tasyahhud akhir), kemudian sebelum salam disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi (an-Nawawī, al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz IV, Halaman 124).
Kedua ; meninggalkan أبعاض الصلاة (sunnah-sunnah sholat yang utama). Sunnah-sunnah ab’adh itu meliputi : duduk tasyahhud awwal, membaca bacaan tasyahhud awwal, membaca shalawat atas Nabi pada tasyahhud awwal, berdiri untuk qunūt subuh atau qunūt witir bulan Ramadhan, membaca bacaan qunūt, membaca shalawat atas Nabi, keluarga dan sahabat pada qunūt itu dan membaca shalawat atas keluarga nabi pada tasysahhud akhir (Hasan bin Ahmad al-Kaff, at-Taqrīrāt as-Sadīdāt fi al-masā’il al-Mufīdah, Juz I, Halaman 269).
Dalam sebuah hadis diriwayatkan :
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ الظَّهْرَ فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلَاةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ثُمَّ سَلَّمَ
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat dzhuhur bersama mereka (sahabat), lalu Beliau berdiri pada dua rakaat yang pertama tanpa duduk (untuk tasyahud), dan orang-orang ikut berdiri. Sehingga ketika shalat akan selesai, orang-orang menanti salam Beliau, beliau bertakbir dalam posisi duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam, setelah itu kemudian Beliau salam” (H.R. Bukhārī).
Ketiga ; memindah rukun qaulī (ucapan) bukan pada tempatnya. Sekalipun memindah rukun qaulī itu dengan sengaja sekalipun tidak termasuk hal yang membatalkan shalat, seperti membaca al-Fatihah pada saat duduk tasyahhud, maka sebelum salam disunnahkan untuk melakukan sujud sahwi (Hasan bin Ahmad al-Kaff, at-Taqrīrāt as-Sadīdāt fi al-masā’il al-Mufīdah, Juz I, Halaman 268).
Keempat ; melakukan gerakan yang berkemungkinan tergolong sebagai kelebihan, seperti seseorang yang melakukan sholat yang empat raka’at, ia ragu apakah ia baru sampai rakaat ketiga atau sudah raka’at keempat. Maka dalam keadaan seperti ini, ia harus mengambil hitungan terkecil dan memutuskan baru pada rakaat ketiga, sehingga ia harus menambahkan satu rakaat lagi dan disunnahkan sebelum salam melaksanakan sujud sahwi. Sahabat Abu Sa’īd al-Khudrī meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda :
إِذَا شَكَّ أحدُكمْ في صَلَاتِه فلم يَدْرِ كَمْ صَلَّى أَثَلَاثًا أمْ أربعًا ؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ ولْيَبْنِ عَلى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قبلَ أنْ يُسلّمَ، فإنْ كانَ صلَّى خمسًا شَفَعْنَ لَه صلَاتَه، وإن كانَ صَلَّى تمامًا كانَتَا ترْغِيْمًا للِشَّيْطَانِ
“Jika kalian ragu dalam sholat, tidak ingat apakah telah melakukan shalat tiga rakaat atau empat rakat, maka buanglah rasa ragu itu dan pilihlah hal yang diyakini (hitungan tiga rakaat) dan hendaklah melakukan sujud dua kali sebelum ia melakukan salam. Jika shalat tersebut akhirnya menjadi lima (raka’at), maka dua sujud (sahwi itu) menggenapkan (hitungan raka’at) sholatnya. Jika ternyata shalatnya sesuai (empat raka’at), maka keduanya (sujud sahwi itu) mempermalukan (menghinakan) syaitan.” (HR. Muslim).
Jika keraguan hitungan raka’at itu timbul setelah salam (selesai sholat), maka tidak mengapa (tanpa perlu sujud sahwi), terkecuali apabila keraguan itu tentang niat sholat, takbiratul ihram, bersuci, apakah hal tersebut telah dilakukannya atau belum ia lakukan, maka dalam keraguannya ini ia harus i’adah as-shalah alias mengulang sholatnya (Hasan bin Ahmad al-Kaff, at-Taqrīrāt as-Sadīdāt fi al-masā’il al-Mufīdah,, Juz I, Halaman 271).
Kelima ; ketika menyadari kurangnya raka’at setelah melakukan salam. Orang yang setelah salam, kemudian ia ingat dan meyakini bahwa sholatnya belum cukup karena kurangnya raka’at, baik satu, dua atau kurang tiga rakaat, selama jeda antara salam dan ingatnya itu tidak terlalu lama, maka ia bisa segera menambah rakaatnya, dan sujud sahwi sebelum salam. Namun apabila jeda antara salam dan ingatnya itu sudah dianggap cukup lama, maka ia harus mengulangi sholatnya dengan niat, takbiratul ihram dan seterusnya (an-Nawawi, al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz IV, Halaman 113).
Keenam ; makmum masbūq mengikuti imam yang sedang ruku’, namun ma’mum ini ragu apakah ia menututi imam dalam keadaan ruku’ yang mencukupkannya dinilai menututi imam pada rakaat itu atau tidak, maka dalam kondisi seperti ini ia tidak dihitung menututi imam pada raka’at itu, dan sebelum salam ia dianjurkan untuk sujud sahwi atas keraguan ini. Hal ini sama dengan dianjurkannya sujud sahwi atas orang yang ragu apakah ia sholat tiga rakaat atau sudah empat rakaat sebagaimana penjelasan yangh telah lalu (an-Nawawi, al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz IV, Halaman 129).
Ketujuh ; karena kurangnya sujud satu kali untuk raka’at terakhir dan mushallī (orang yang sholat) menyadarinya ketika dalam posisi tasyahhud akhir sebelum salam, maka ia harus menambah satu sujud lagi dan meneruskan membaca tasyahhud serta sujud sahwi sebelum salam. Namun apabila sujud yang ditinggalnya itu bukan sujud rakaat terakhir, maka ia harus menambah satu rakat dan melakukan sujud sahwi sebelum salam (an-Nawawi, al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz IV, Halaman 120 – 121).
Untuk makmum, ia harus mengikuti gerakan imam, sekalipun imam lupa duduk untuk tasyahhud (awwal) atau lupa qunūt (subuh atau witir Ramadhan), makmum harus mengikutinya. Apabila makmum memaksakan diri untuk bertasyahhud sementara imam tetap dalam posisi berdiri, atau makmum memaksakan diri untuk qunūt sendiri sementara imam dalam posisi sujud, maka atas tindakan makmum ini, batal sholatnya, terkecuali apabila ia atas tindakannya itu berniat mufāraqah yaitu keluar dari jama’ah sholat (an-Nawawi, al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz IV, Halaman 131).
Demikian penjelasan tentang sujud sahwi, akhirnyaWallāhua’lam.














