Menu

Mode Gelap
KETENTUAN SHOLAT DI PESAWAT SUAMI MELARANG ISTRI MENGUNJUNGI ORANG TUANYA Tafsir Surat Al Baqoroh 271 Malam Senin 24 September 2023 // Ustadz KH. Tafsir. LC, MPdI Ngaji Syarah Bulughul Maram Bab Adzan (bag 2) 17 Sept 2023 // Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI Tafsir Al Baqoroh 270 Malam Senin 17 September 2023 // Ustadz KH. Tafsir. LC, MPdI

Konsultasi Islam · 3 Agu 2024 22:35 WITA

ENAM SAKTAH DALAM AL-QUR’ Ā’N (BERDASARKAN QIRĀ’AH IMAM ‘ĀSHIM RIWAYAT HAFSH)


 ENAM SAKTAH DALAM AL-QUR’ Ā’N  (BERDASARKAN QIRĀ’AH IMAM ‘ĀSHIM RIWAYAT HAFSH) Perbesar

Dijawab oleh Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.

 

DESKRIPSI MASALAH :

Dalam perjalanan sejarah al-Qur’ān, terdapat beberapa varian bacaan al-Qur’ān yang biasa disebut dengan qirā’ah al-Qur’ān. Di Indonesia dan di banyak negara lainnya, ahli qirā’ah al-Qur’ān banyak mengikuti qirā’ah imam ‘Āshim. Imam ‘Āshim sendiri mempelajari qirā’ah al-Qur’ān kepada Abū Abdurrahmān al-Sullamī. Sedangkan Abdurrahmān al-Sullamī belajar qirā’ah al-Qur’ān kepada Zaīd bin Tsābit, Abdullāh bin Mas’ūd, Ubay bin Ka’b, ‘Alī bin Abī Thālib, dan Utsmān bin ‘Affān. Para sahabat ini belajar langsung dan menerima qirā’ah al-Qur’ān dari Nabi Muhammad ﷺ. Diantara baca’an imam ‘Āshim yang diriwayatkan oleh salah seorang muridnya yang bernama imam Hafsh, terdapat baca’an yang disebut dengan saktah.

 

PERTANYAAN :

  1. Apakah saktah itu ?
  2. Berapakah jumlah bacaan saktah dalam al-Qur’ān ?

 

JAWABAN :

Pertanyaan baik !

Agar melafalkan bacaan saktah tidak mengalami kesulitan, terlebih dahulu perlu diketahui arti dan definisi saktah itu sendiri. Secara bahasa saktah adalah diam dan berhenti, sedangkan menurut istilah para ahli qirā’ah saktah adalah :

قَـطْـعُ الصَّــوْتِ زَمَنًـا دُوْنَ زَمــَنِ الْــوَقْـفِ عَـادَةً مِـنْ غَـيْرِ تَنَفُّسٍ مَــعَ قَـصْـدِ القِرَاءَةِ[1]

“Memutus suara baca’an (al-Qur’ān) seukuran jeda lebih sebentar dari cara biasanya berhenti (waqof) dengan menahan nafas yang bertujuan untuk menyambung dengan bacaan berikutnya.”

Saktah dalam al-Qur’ān sebenarnya cukup banyak, namun jika dihitung berdasarkan qirā’ah imam Hafsh dari imam ‘Āshim sebagaimana disebutkan dalam kitab Sirāj al-Qāri’ al-Mubtadi’ Syarh Mandzhümah Hirz al-Amānī wa Wajh at-Tahānī saktah itu berjumlah 4, disebutkan dalam nadzm berikut :

وسَـكْـــتَـةُ حَفْصٍ دُوْنَ قطعٍ لطـيـفَـةً         #          على ألِـــفِ الـتَّـنْــــوِيْنِ فى عِــوَجـًا بـَلـَـى

وَفى نُــوْنِ مَــنْ راقٍ ومَـــرْقَـدِنَا وَلَا          #          مِ بَلْ رَانَ والبَـاقـُوْنَ لا سَكْتَ مُوصَـلَا[2]

Saktah dengan berhenti sebentar menurut imam Hafsh (dari imam ‘Āshim) tidak lebih dari waqof       #          yaitu di atasnya alif sebagai penggganti tanwin pada lafadz ‘iwajā.

Dan pada nun lafadz man-rāq, dan pada lafadz marqadinā serta pada lam         #          lafdz balrāna. Sedangkan selain imam Hafsh tidak mensaktahkannya dalam keadaan bersambung (tidak waqof)”.

Selain keempat bacaan saktah yang dimaksud pada bait di atas, seorang pakar qirā’ah al-Qur’ān berkebangsaan Mesir yang gaya nada bacaannya sangat berpengaruh hingga saat ini, yaitu Mahmūd Khalīl al-Khusharī, ia menambahkan dua bacaan saktah riwayat Imam Hafs, pertama ; terdapat di akhir surah Al-Anfāl dan awal surah at-Taubah (al-Barā’ah),[3] kedua ; antara ayat 28 dan ayat 29 pada surah Al-Hāqqah[4]. Dengan demikian bacaan saktah versi imam Hafsh dari imam ‘Āshim berjumlah 6 (enam) bacaan. Keenam bacaan saktah dimaksud beserta keterangannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

:

KeteranganSurahAyatNo
Berhenti pada dan dibaca عِوَجَا dengan menahan napas selama 1 alif (dua harakat), setelah itu dilanjutkan membaca . . . قَيِّمًاAl-Kahfi : 1-2اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًاۜ  قَيِّمًا1
Berhenti pada مَّرْقَدِنَاۜ dengan menahan napas selama 1 alif (dua harakat), setelah itu dilanjutkan membaca . . . هٰذَاYāsīn : 52قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَاۜ هٰذَا2
Berhenti pada مَنْ ۜ dengan menahan napas selama 1 alif (dua harakat), setelah itu dilanjutkan membaca . . . رَاقٍۙAl-Qiyāmah : 27وَقِيْلَ مَنْ ۜ رَاقٍۙ3
Berhenti pada بَلْ dengan menahan napas selama 1 alif (dua harakat), setelah itu dilanjutkan membaca . . . رَانَAl-Muthaffifīn : 14كَلَّا بَلْ ۜ رَانَ4
Berhenti pada dan dibaca عَلِيمْ dengan menahan napas selama 1 alif (dua harakat), setelah itu dilanjutkan membaca . . . بَرَاۤءَةٌAl-Anfāl : 75 dan at-Taubah : 1اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ  بَرَاۤءَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖٓ5
Berhenti pada مَالِيَهْ dengan menahan napas selama 1 alif (dua harakat), setelah itu dilanjutkan membaca . . . هَلَكَAl-Hāqqah : 28 -29مَا أَغْنَىٰ عَنِّي مَالِيَهْ ۜ هَلَكَ عَنِّى سُلْطَٰنِيَهْ

 

6

 

Demikian bacaan saktah dalam al-Qur’ān versi imam Hafsh dari imam ‘Āshim agar dapat diketahui, wallāhua’lam.

 

 

[1] Mahmūd Khalīl al-Khusharī, Ahkām Qirā’ah al-Qur’ān al-Karīm, (Makkah al-Mukarramah : Al-Maktabah Al-Makkiyyah, 1996) Hlm. 261.

[2] ‘Alī Bin ‘Utsmān al-Baghdādī, Sirāj al-Qāri’ al-Mubtadi’ Syarh Mandzhümah Hirz al-Amānī wa Wajh at-Tahānī (Beirut : Dār al-Fikr, 1995) Hlm. 151.

[3] Muhammad Arwani, Faīdh al-Barakāt fī Sab’al-Qirā’āt, Juz I, Cetakan ke II (Maktabah Mubarakah Thayyibah, 2001) Hlm. 246. Lihat pula Ālī An-Nūrī, Ghaīts an-Nāfi’ fī al-Qirā’āt as-Sab’ (Beirut : Dār Al-Fikr, 1995) Hlm. 74

[4] Mahmūd Khalīl al-Khusharī, Ibid, Hlm. 262-263.

Artikel ini telah dibaca 83 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Kontroversi Penggunaan Obat Tetes Mata Ketika Sedang Berpuasa

10 Maret 2026 - 06:26 WITA

Kaffārah Bagi Suami Yang Melakukan Hubungan Intim Ketika Istri Sedang Haid

17 Februari 2026 - 11:12 WITA

Bolehkan Berkurban Dengan Kerbau ?

7 Februari 2026 - 19:43 WITA

Setelah Mandi Hadas Besar Tidak Harus Berwudhu

31 Januari 2026 - 20:38 WITA

Apakah Wajib Memandikan Anggota Tubuh Yang Diamputasi ?

16 Januari 2026 - 18:07 WITA

Apakah Anak Dari Saudara Sesusuan Masuk Kategori Mahram ?

22 November 2025 - 20:17 WITA

Trending di Konsultasi Islam