DESKRIPSI :
Diantara huruf hijaiyah, huruf hamzah mendapat perhatian tersendiri. Hal ini dikarenakan hamzah sendiri dilihat dari gramatikal bahasa Arab yakni ilmu nahwu dan sharf (tashrīf) banyak macamnya. Mengingat sejak dahulu bahkan hingga saat ini tulisan Arab, jarang menyertakan tanda baca (harakat fathah, kasrah dan dhammah) serta sukūn, dan al-Qur’ān pun mulanya tidak menyertakan tanda baca tersebut, karenanya hamzah yang berada di awal kata, harus diketahui jenisnya agar tidak salah ketika membacanya.
PERTANYAAN :
Apa perbedaan antara hamzah al-washl dan hamzah al-qath’?
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Hamzah banyak jenisnya, namun di sini akan membincangkan hamzah al-washl dan hamzah al-qath’ saja sesuai pertanyaan. Kita memulainya dari hamzah al-washl, dalam nadzm Alfiyah Ibnu Malik disebutkan :
لِلْـوَصْــلِ هَـمْـزٌ سَابِـقٌ لَا يَثْبُتُ # إلَّا إِذَا ابْـتُـدِى بِه كَاسْتَثْبِـتُـوْ
“untuk menyambung (kata yang diawali sukun) ada hamzah (tambahan) yang disipkan di awalnya tetapi tidak bersifat tetap (dibaca) # kecuali apabila ia dijadikan pengawal kalimat seperti pada kata istatsbitū”.
Ada beberapa alasan hamzah ini dinamkan dengan dengan hamzah al-washl yang artinya hamzah sambung, pertama ; karena ia gugur (bacaannya) ketika bersambung, kedua ; karena kalimat yang jatuh sebelum hamzah al-washl itu dapat sampai dan bersambung dengan kalimat/kata yang dimasuki hamzah al-washl itu dengan menggurkan hamzah tersebut, ketiga ; karena orang dapat membaca huruf yang sukūn setelah menambahkan hamzah al-wash. Gugurnya hamzah ini berlaku pada pengucapan saja, sementara ia tetap ada pada penulisan seperti dikatakan oleh Syaikh Mākūdī :
وَهذَا فِى الَّلفْظِ وأمَّا فِى الخَطِّ فَلَا بُدَّ مِنْ كِتَابَتِهَا[1]
“Ketentuan (gugurnya hamzah al-washl) ini hanya berlaku pada pengucapannya saja, sedangkan pada tulisan, hamzah al-washl tersebut harus tetap ditulis”.
Hamzah al-washl bisa berada di awal masing-masing jenis kata yang terdapat dalam bahasa Arab yakni kata kerja (كلمة الفِعْل), kata benda (كلمة الإسْم), dan kata sambung (كلمة الحَرْف). Adapun hamzah al-washl yang terdapat pada kata kerja (كلمة الفعل) ialah :
- Pada kata kerja lampau (الفِعْل المَاضِي) yang terdiri dari lima huruf (الخُمَاسِيّ) seperti pada kata “انْطَلَقَ”, “ارْتَابَ”, “ارْتَضى”, “اسْتَحَقَّ”, “اجْتَمَعَ”, “اشْتَرَى”, dan sebagainya.
- Pada kata kerja lampau (الفِعْل المَاضِي) yang terdiri dari enam huruf (السُّدَاسِيّ) seperti kata “اسْتَغْفَرَ”, “اسْتَنْصَرَ”, “اشْمَأَزَّ”, “اسْتَغْنى”, “اسْتَعْلى” dan sebagainya
- Pada kata perintah (فعْل الأَمْــرِ) yang fi’il mādhīnya terdiri dari lima huruf (الخمُاَسِيّ) seperti kata “انْتَظِرْ”, “اصْطَبِرْ”, “ارْتَقِبْ”, “انْطَلِقْ” dan sebagainya
- Pada kata perintah (فعْل الأَمْـر) yang fi’il mādhīnya terdiri dari enam huruf (السُّدَاسِيّ) seperti kata “اسْتَغْفِرْ”, “اسْتَفْزِزْ” ,”اسْتَجِبْ” dan sebagainya
- Pada kata perintah (فعْل الأمْرِ) dari fi’il mādhīnya terdiri dari tiga huruf (الثُّلَاثِيّ) seperti kata “ارْجِعْ”,”انْظُرْ”,”اذْكُرْ”,”اذْهَبْ” dan sebagainya
Sedangkan hamzah hamzah al-washl yang terdapat pada kata benda (كلمَة الاسْمِ) ada yang berdasarkan jalan qiyāsī yakni berdasarkan jalan tashrīf yang terukur (قِيَاسِيّ). Hamzah al-washl berdasarkan jalan qiyāsī ini terdapat pada hamzah yang berada di awal isim pada :
- masdar pada fi’il yang terdiri dari lima huruf (الخُمَاسِيّ) seperti kata “اخْتِلَاف”, “ابْتِغَاء” ,”افْتِرَاء”, “انْتِقَام” dan sebagainya
- masdar pada fi’il yang terdiri dari enam huruf (السُّدَاسِيّ) seperti kata “اسْتِكْبَارًا”, “اسْتِغْفَارًا” dan sebagainya
Selain berdasarkan jalan qiyāsī di atas, hamzah al-washl itu terdapat pada kata benda berdasarkan jalan kebiasaan orang Arab mengucapkannya (سَمَاعِيّ) pada beberapa kosa kata. Berikut hamzah al-washl yang terdapat pada kata benda berdasarkan jalan samā’ī :
- Hamzah pada kata “اثْنَانِ” atau “اثْنَيْ”
- Hamzah pada kata “اثْنَتَانِ” atau “اثْنَتَيْنِ”
- Hamzah pada kata “ابْن”
- Hamzah pada kata “ابْنَة”
- Hamzah pada kata “امْرُؤ”
- Hamzah pada kata “امْرَأَة”
- Hamzah pada kata “اسْم”
Adapun hamzah al-washl yang masuk pada kata sambung “كلمة الحَرْف”, diantaranya :
- Hamzah yang masuk pada “اللام المُوْصُوْلَة” seperti pada ayat al-Qur’ān إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ[2]
- Hamzah yang masuk pada “اللام الزَّائِدَة اللازِمَة” yakni “lam” yang melekat dan tidak dapat dipisahkan dari kata itu sendiri seperti pada kata “اللذِيْنَ””اللاتِى”, “الآنَ”, “الْيَسَع”
- Hamzah yang masuk pada “اللام الزائِدَة غير اللازِمَة” yang disebut dengan “لَام التَّعْرِيْفِ” seperti pada kata “الأرْض”, “الجِبَال”, “الضُّحى”, “الغَفُوْر” dan sebagainya.
Mengenai harakat hamzah al-washl, bentuk harakatnya ialah sejumlah harakat itu sendiri yakni ada yang fathah, ada yang dhammah dan ada yang kasrah. Berikut penjelasan masing-masingnya. Hamzah al-washl diharakati fathah apabila hamzah al-washl berada di awal kata benda (لَام التَّعْرِيْفِ) seperti pada kalimat “الحمْدُ لله”, “الرَّحمن”, “الرِّجَالُ” dan sebagainya
Hamzah al-washl diharakati dhammah apabila hamzah al-washl berada pada fi’il yang huruf ketiganya berharakat dhammah, seperti pada kalimat “اشْكُرْ لي ولوالديك” “اتْلُ مَا أوحي إليك” “ولقد اسْتُهْزِىءَ برسل من قبلك” “اخْرُجْ عليهن” “اعبُدُوا ربَّكم” “ادْعُوْنِي استجب لكم”, “اجْتُثَّتْ”, “اؤْتُمِنَ”, “اضْطُرّ”, “اسْتُضْعِفُوا”, “انْظُرْ”, ”اعْبُدُوا dan sebagainya.
Hamzah al-washl diharakati kasrah apabila :
- Huruf yang ketiga pada fi’il berharakat kasrah seperti pada kalimat “اهْدِنا الصراط المستقيم” “ارْجِعْ إليهم” “اتَّبِعْ ما أوحي إليك” dan sebagainya
- Huruf yang ketiga pada fi’il berharakat fathah seperti pada kata “اقْرَأْ باسْمِ رَبِّك” “اسْتَحْوَذَ عليهم الشيطان” “اسْتَجِيْبُوْا لربكم” dan sebagainya[3]
Adapun hamzah yang terdapat pada fi’il yang terdiri dari empat huruf yakni pada wazan “أَفْعَلَ – يُفْعِلُ -إِفْعَالًا” seperti “أَكْرَمَ” ialah bukan hamzah al-washl tetapi hamzah al-qath’, karena hamzah tersebut mengandung makna tertentu seperti untuk menjadikan kata kerja intransitif menjadi kata kerja transitif (للتَّعْدِيَة), atau makna masuknya pada suatu tempo tertentu (للْحَيْنُوْنَة), atau untuk makna berubah menjadi sesuatu (للصّيْرُورَة) dan sebagainya[4]. Dan ketika pada fi’il mādhī (فِعْل المَاضِي) hamzahnya berupa hamzah al-qath’ begitu pula hamzah yang terdapat pada bentuk mashdarnya (المَصْدَر) ataupun bentuk amrnya (فِعْل الأَمْـرِ)[5].
Jadi hamzah al-washl itu ditambahkan pada setiap awal kata yang sukūn (mati), mengingat huruf yang sukūn itu tidak dapat dibaca ketika berada di awal kalimat (الإبْتِدَاء), di sinilah fungsi dan peran hamzah al-washl. Ketentuan hamzah al-washl ketika ada di tengah-tengah kalimat yang bersambung dengan kata sebelumnya, ia tidak dibaca sekalipun tulisan hamzahnya ada seperti pada kalimat أَنِ اشْكُرْ لِيْ dan وَلَقَدِ اسْتُهْزِىءَ. Berbeda halnya dengan hamzah al-qath’ di mana ia tetap ditulis dan dibaca, baik ketika berada di awal kalimat seperti أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ataupun ketika berada di tengah kalimat seperti إنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Dan untuk membedakan antara hamzah al-washl dan hamzah al-qath’, pakar kaedah penulisan bahasa Arab (الخَطَّاط) telah membuat perbedaan penulisan antara hamzah al-washl dan hamzah al-qath’ yaitu penulisan hamzah al-washl tidak diberi tanda baca/ harakat tetapi ditulis huruf shād kecil (ص) di atas huruf hamzah tersebut, sedangkan pada hamzah al-qath’ diberi tanda baca sesuai jenis harakatnya. Perbedaan ini tampak jelas pada mushaf al-Qur’ān terbitan Kementerian Urusan Agama, Wakaf, Dakwah dan Penyuluhan Kerajaan Arab Saudi.
Demikian penjelasannya, semoga bermanfa’at, wallāhu a’lam.
Dijawab oleh : Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
[1] Ibnu Hamdūn, Hāsyiyah Ibnu Hamdūn ‘alā Syarh al-Mākūdī, Juz II (Surabaya : Al-Hidayah, tanpa tahun) Hlm. 178.
[2] Q.S Al-Ahzab : 35.
[3] Mahmūd Khalīl, Ahkām Qirā’ah al-Qur’ān al-Karīm, Cetakan ke II (Makkah : Al-Maktabah Al-Makkiyyah, 1996) Hlm. 309 – 322.
[4] Muhammad Ma’shūm bin ‘Alī, Al-Amsilah At-Tashrīfiyyah (Kendal : Pustaka Amanah, 2007) Hlm. 16-17.
[5] ‘Alī bin ‘Usmān, Talkhīsh al-Asās Syarh Matn al-Binā’ wa al-Asās, (Indonesia : Al-Haramaīn, Tanpa Tahun) Hlm. 19 – 20.














