Dijawab oleh Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
DESKRIPSI MASALAH :
Jika dibandingkan dengan sholat sunnah rawātib, dhuhā, tahajjud, witir dan lainnya yang diketahui banyak orang dan diamalkan, sholat sunnah tasbih tidak banyak orang yang mengerjakannya. Padahal hadis yang menerangkannya masuk kategori hadis hasan (bukan hadis dha’īf), sehingga sholat sunnah ini diamalkan ulama’. Dengan memperhatikan namanya, di dalam sholat ini banyak membaca dzikir berupa bacaan tasbih.
PERTANYAAN :
Bagaimana cara melaksanakan sholat sunnah tasbih ?
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Sholat sunnah tasbih ialah sholat sunnah yang masyhur dilakukan ulama. Dalam sholat ini bacaan tasbih dibaca sejumlah 300 (tiga ratus) kali yang dibagi ke dalam 4 (empat) raka’atnya. Dalil yang dijadikan hujjah sholat ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbās, sepupu baginda Rasulullah shallāhu ‘alaihi wasallam.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رسولَ اللهِ صلّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: ” يَا عَبَّاسُ! يَا عَمَّاهُ! أَلَا أُعْطِيكَ؟ أَلَا أُعْطِيْكَ ألَا أَمْنَحُكَ؟ أَلَا أحْبُوْكَ؟ أَلَا أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذلِكَ، غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ، صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ، قُلْتَ: سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً، ثُمَّ تَرْكَعُ، فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ، فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا، فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا، فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ، تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ، وَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ، فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمْرِكَ مَرَّة.[1]
“Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwa Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ‘Abbas bin Abdul Muththalib, “Wahai Abbas, pamanku, tidakkah aku memberimu, tidakkah aku memberi tahumu, tidakkah aku serahkan kepadamu, tidakkah aku lakukan kepadamu sepuluh perkara, apabila engkau melakukannya, maka Allah ampuni dosamu yang awal dan yang akhir, dosa yang lama dan yang baru, dosa yang tak disengaja dan yang disengaja, dosa yang kecil dan yang besar, dosa yang sembunyi-sembunyi dan yang terang-terangan, yaitu shalat empat raka’at, pada tiap raka’at engkau membaca surah al-Fātihah dan surat lainnya. Ketika engkau telah selesai membaca di raka’at pertama dan engkau dalam keadaan berdiri, ucapkanlah subhānallāh walhamdu lillāh walā ilāha illallāhu wallāhu akbar lima belas kali. Kemudian engkau ruku’, dalam posisi ruku’ itu ucapkanlah kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau mengangkat kepalamu dari ruku’ (i’tidāl), ucapkanlah kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau turun bersujud, dalam keadaan bersujud itu, ucapkanlah kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud (dalam posisi duduk), ucapkanlah kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau bersujud (yang kedua), ucapkanlah kalimat itu sepuluh kali. Kemudian engkau mengangkat kepala (dalam posisi duduk), ucapkanlah kalimat itu sepuluh kali. Itu semua ada tujuh puluh lima dalam setiap raka’at. Engkau lakukan itu pada keempat raka’at. Jika engkau mampu melakukannya satu kali dalam setiap sehari, maka lakukanlah. Jika engkau tidak mampu, maka lakukanlah setiap satu jum’at sekali. Jika engkau tidak melakukannya (setiap pekan), maka setiap satu bulan sekali. Jika engkau tidak melakukannya (setiap bulan), maka setiap satu tahun sekali. Jika engkau tidak melakukannya (setiap satu tahun sekali), maka selama seumur hidupmu lakukanlah satu kali.”
Berdasarkan hadis di atas, kaifiyah (cara) melaksanakan sholat sunnah tasbih adalah sebagai berikut :
- Berniat, dengan redaksi :
أُصَلِّيْ سُنَّةَ التَسْبِيْحِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلهِ تَعَالَى
“Aku berniat sholat sunnah tasbih empat raka’at karena Allah ta’āla.”
- Membaca surah (pendek) setelah surah al-Fātihah pada tiap raka’atnya ; surah at-Takātsur (pada raka’at pertama), surah al-‘Ashr (pada raka’at kedua), surah al-Kāfirūn (pada raka’at ketiga) dan surah al-Ikhlāsh (pada raka’at keempat).
- Membaca tasbih “سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ للهِ وَلَا إِلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أكْبَرُ” sebanyak 15 (lima belas) kali pada setiap selesai membaca surah (pendek) setelah al-Fatihah, 10 (sepuluh) kali setelah bacaan ruku’, 10 (sepuluh) kali setelah bacaan i’tidal, 10 (sepuluh) kali setelah bacaan sujud, 10 (sepuluh) kali setelah bacaan duduk diantara dua sujud, 10 (sepuluh) kali setelah bacaan sujud (kedua), 10 (sepuluh) kali ketika duduk (tambahan) sebelum berdiri. Untuk bacaan tasbih yang terakhir ini, dilakukan pula pada raka’at ketiga yakni ketika duduk (tambahan) setelah bangun dari sujud kedua sebelum berdiri.
- Untuk raka’at kedua, bacaan tasbih di baca setelah bacaa tasyahhud pertama (sebelum berdiri), dan untuk raka’at terakhir, baca’an tasbih dibaca setelah bacaan tasyahhud akhir (sebelum salam)[2].
Dengan melakukan hal di atas, maka pada sholat sunnah tasbih ini, bacaan tasbih yang dibaca pada tiap raka’atnya sejumlah 75 kali, sehingga total bacaan tasbih yang dibaca pada keempat raka’atnya sejumlah 300 (tiga ratus) kali. Cara sholat tasbih di atas bisa dilakukan baik di siang hari maupun dimalam hari, namun apabila dilakukan di malam hari, lebih baik dilaksanakan dengan dua kali salam, hal ini didasarkan kepada hadis Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi “صَلَاةُ الَّليْلِ مَثْنى مَثْنى” (sholat sunnah malam itu dua raka’at, dua raka’at)[3]. Demikian, wallāhua’lam.
[1] Sayyid Muhammad bin ‘Alawī al-Mālikī, Khashā’ish al-Ummah al-Muhammadiyyah, Cetakan ke IX (Surabaya : Hai’ah ash-Shafwah al-Mālikiyyah, 2020) Hlm. 136-137.
[2] Sayyid Muhammad bin ‘Alawī al-Mālikī, Ibid, Hlm. 138.
[3] Muhammad an-Nawawī al-Jāwī, Nihāyah az-Zaīn, (Surabaya : Al-Haramaīn, 2006) Hlm. 115.














