KRITERIA IMAM SHOLAT
Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI MASALAH :
Mengingat sholat secara berjama’ah sangat dianjurkan dan sholat berjama’ah itu hanya bisa dilakukan sedikitnya oleh seorang imam dan seorang makmum, tentu kriteria imam sebagai orang yang memimpin pelaksanaan sholat berjamaah serta yang menjamin keberlangsungan sholat berjama’ah perlu diketahui.
PERTANYAAN :
Bagaimana kriteria imam sholat dalam Islam?
JAWABAN :
Pertanyaan baik ! ketika sholat berjama’ah itu sangat dianjurkan, maka Islam melalui hadis Rasulullah SAW memberikan pedoman berupa kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih imam sholat. Salah satu hadis yang menjelaskannya adalah sebagai berikut :
يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا
“Hendaklah orang yang mengimami (shalat) suatu kaum adalah orang yang paling fasih bacaan al-Qur’ānnya. Jika kefasihan bacaan mereka sama, hendaklah (dipilih) orang yang paling mengetahui as-Sunnah. Jika pengetahuan mereka mengenai as-Sunnah sama, hendaklah (dipilih) orang yang paling dahulu melaksanakan hijrah. Jika pelaksanaan hijrah mereka sama, maka (dipilih) yang pertama-tama memeluk agama Islam” (H.R Muslim).
Hadis di atas menjelaskan bahwa orang yang paling berhak menjadi imam sholat adalah orang yang paling fasih dalam membaca al-Qur’ān. Sebab al-Qur’ān adalah sumber ilmu-ilmu dalam Islam. Tetapi apabila kemampuan dan kefasihan antara satu orang dan lainnya itu berada pada tingkatan yang sama, maka dipilih diantara mereka itu orang yang lebih mendalam pengetahuannya tentang as-Sunnah sebagai sumber hukum Islam kedua setelah al-Qur’ān. Dan apabila diantara mereka itu memiliki kemampuan dalam membaca al-Qur’ān dan memahami as-Sunnah berada dalam taraf yang setara, maka diutamakan orang yang lebih senior usianya, karena pada diri orang yang lebih senior itu telah banyak terkumpul padanya pundi-pundi amal sholih, sehingga ia lebih pantas memimpin sholat berjama’ah.
Dan jika mereka itu berada dalam suatu tempat, maka orang setempat lebih diutamakan, begitu pula imam setempat lebih utama daripada orang luar. Sehingga jika orang musāfir (dalam perjalanan) mengimami orang muqīm (masyarakat setempat), hukumnya khilāf al-aulā (menyalahi hukum keutamaan), karena musafir yang tidak diketahui kapasitas kemampuannya itu dapat membuat kebimbangan dalam hati dan fikiran para makmum, sebagaimana hukum khilāf al-aulā berlaku atas anak zina – yang tidak diketahui siapa bapaknya itu – ketika menjadi imam sholat, na’ūdzu billāh (an-Nawawī, al-Majmū’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz IV, Halaman 279-288),Wallāhua’lam.














