Dijawab oleh Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
DESKRIPSI MASALAH :
Terdapat tiga jenis darah yang keluar dari vagina perempuan yaitu darah haid, darah nifas dan darah istihādhah. kedua darah pertama yakni haid dan nifas masuk kategori darah normal dan lumrah dialami wanita. sedangkan darah yang terakhir tidak banyak dialami wanita. Sudah jamak diketahui, dengan terjadinya darah haidh dan nifas pada wanita, maka terdapat ketentuan hukum diantaranya dilarang mendirikan sholat, berpuasa, melakukan hubungan seksual. Dan di saat darah haid dan nifas itu berhenti, maka untuk mengakhiri masa kotor itu dan memasuki masa suci, ia diharuskan mandi sebagaimana cara mandi pada hadas besar.
PERTANYAAN :
Apakah wanita yang mengalami istihādhah wajib mandi ketika darah istihādhahnya sudah berhenti (tidak keluar lagi) ?
Penanya : Syifa’ul Qulub, Tegalbadeng Timur
JAWABAN :
Pertanyaan baik mewakili kaum hawa !
Darah istihādhah adalah darah yang keluar pada waktu tidak biasanya (bukan pada masa haid dan bukan pada masa nifas), bisa karena keluarnya pada wanita sebelum berusia sembilan tahun (qamariyah), atau keluarnya kurang dari sehari-semalam (sebagai masa sedikitnya haid), atau keluarnya darah itu melebih masa maksimal haid (15 hari) atau melewati masa maksimal nifas (60 hari). lebih tepat jika darah istihādhah ini digolongkan ke dalam darah penyakit yang sebaiknya segera dikonsultasikan ke dokter ahli.
Istihādhah dalam perspektif fiqh termasuk hadas kecil, bukan hadas besar, oleh karenanya tidak mewajibkan mandi tetapi mengharuskan berwudhu’ ketika hendak beribadah seperti sholat, memegang mushaf al-Qur’ān dan sebagainya. Berwudhu’ bagi wanita istihādhah sama dengan cara berwudhu’ bagi orang yang bertayammum yakni berlaku hanya untuk satu kali sholat fardhu saja. dalam hal ini Rasulullah shallallāhu ’alaihi wasallam bersabda :
الْمُسْتَحَاضَةُ تَدَعُ الصَّلَاةَ أَيَّامَ أَقْرَائِهَا ثُمَّ تَغْتَسِلُ وَتَتَوَضَّأُ لِكُلِّ صَلَاةٍ وَتَصُومُ وَتُصَلِّي
“Wanita yang mengalami istihādlah hendaknya meninggalkan shalat di hari-hari haidlnya, kemudian ia mandi dan berwudlu di setiap shalat, dan ia tetap berpuasa serta shalat”[1].
Terdapat perbedaan antara wanita mengalami istihādhah dan wanita yang sedang haidh ataupun naifas sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut :
| No | Istihādhah | Haidh | Nifas |
| 1 | Wajib mendirikan sholat | Tidak wajib mendirikan sholat | Tidak wajib mendirikan sholat |
| 2 | Tidak wajib mengulang sholatnya | Tidak wajib mengqodho’ sholatnya | Tidak wajib mengqodho’ sholatnya |
| 3 | Wajib berpuasa | Tidak wajib berpuasa | Tidak wajib berpuasa |
| 4 | Tidak wajib mengulang puasanya | Wajib mengqodho’ puasanya | Wajib mengqodho’ puasanya |
| 5 | Boleh berhubungan seks | Tidak boleh berhubungan seks | Tidak boleh berhubungan seks |
| 6 | Boleh melakukan thawaf | Tidak boleh melakukan thawāf | Tidak boleh melakukan thawāf |
| 7 | Boleh membaca al-Qur’ān dan membawanya | Tidak boleh membaca al-Qur’ān dan membawanya | Tidak boleh membaca al-Qur’ān dan membawanya |
| 8 | Boleh melakukan i’tikāf | Tidak boleh melakukan i’tikāf | Tidak boleh melakukan i’tikāf |
Sedangkan tata cara melaksanakan sholat khusus bagi wanita yang mengalami istihādhah ialah sebagai berikut :
- membersihkan darah istihādhahnya setelah masuk waktu sholat (adzan)
- menyumbat vagina dengan kapas atau sejenisnya, jika dianggap perlu lebih baik ditambah dengan mengenakan pembalut. Namun apabila sedang berpuasa tidak boleh melakukan penyumbatan itu ke dalam vagina, karena dapat membatalkan puasa.
- tidak boleh ada jeda lama antara membersihkan darah, berwudhu dan sholat[2].
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa wanita yang mengalami istihādhah itu tidak wajib mandi baik untuk setiap kali sholat, maupun ketika darahnya sudah berhenti (tidak keluar lagi) selain mandi yang dilakukan ketika mengakhiri haid dan nifasnya. tetapi apabila ia melakukan mandi, baik ketika setiap hendak sholat maupun ketika terhentinya darah istihadhahnya , tentu hal itu lebih baik, karena lebih membersihkan daripada hanya berwudhu saja. Wallāhua’lam.
[1] Wahbah Zuhailī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū, Juz I, (Tanpa tempat penerbit, tanpa nama penerbit : tanpa tahun) Hlm. 480-481.
[2] Hasan bin Ahmad al-Kaff asy-Syāfi’ī, at-Taqrīrāt as-Sadīdāt Fī al-Masā’il al-Mufīdah Qism al-‘Ibādāt (Surabaya : Dār al-Ulūm al-Islāmiyyah, 2006) Hlm.170-171. lihat pula Wahbah Zuhailī, Ibid, Halaman 478.














