DESKRIPSI MASALAH :
Diantara kesunnahan sholat, dianjurkan membaca surah setelah membaca surah al-Fātihah. Beberapa surah yg tergolong pendek yang lazim dibaca Rasulullah secara sempurna dari awal hingga akhir banyak diikuti orang. Namun terkadang ada imam sholat membaca ayat setelah surah Al -Fatihah tidak dimulai dari awal surah.
PERTANYAAN :
Bagaimana hukum membaca ayat setelah al-Fātihah tidak dimulai dari awal surahnya ?
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Diantara rukun sholat dari rukun qaulī (rukun berupa bacaan) yang harus dibaca ialah membaca surah al-Fātihah. Sedangkan membaca surah setelahnya dihukumi Sunnah. Sekalipun hukumnya sunnah, namun hampir setiap kali melaksanakan sholat, mushallī (orang yang sholat) selalu membaca surah setelah al-Fātihah.
Barangkali karena surah-surah pendek sudah menjadi pilihan secara turun-temurun dibaca setelah al-Fātihah, maka surah yang relatif panjang jarang dibaca terkhusus di Indonesia, kecuali pada pelaksanaan sholat tarāwih di malam Ramadhān, tidak sedikit Masjid atau Surau di mana imamnya membacakan satu juz setiap kali melaksanakan sholat tarāwīh tiap malamnya, sebagaimana hal ini dilakukan secara rutin di Masjid al-Harām Makkah.
Pilihan surah setelah al-Fātihah tidak sekedar berdasarkan pendek dan sedikitnya jumlah ayat dalam surah, namun banyak hadis yang menyebutkan surah-surah itu kerap dibaca Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam ketika beliau melaksanakan sholat, terkadang pula beliau membaca dua surah dalam satu raka’at ketika melaksanakan sholat sunnah[1].
Namun demikian, untuk sholat berjama’ah, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam cenderung memilih surah yang tidak panjang mengingat diantara para makmum terdapat orang yang sudah tua, orang yang kurang sehat, atau orang yang memiliki kepentingan sehingga waktu sholatnya tidak banyak. Demi keberlangsungan sholat dilaksanakan secara khusyu’ beliau tidak segan-segan menegur imam sholat dari kalangan sahabat yang ditemukan membaca surah yang dinilai panjang sementara para makmumnya merasa keberatan atas hal tersebut. Salah satu contoh, beliau menegur sahabat Mu’ādz yang membaca surah al-Baqarah di saat menjadi imam sholat[2].
Nah, sementara membaca ayat setelah al-Fātihah ketika sholat tidak dari awal surah, hal ini tidak dilarang. Dalil yang dijadikan dasar bolehnya membaca ayat tidak dari awal surahnya adalah hadis yang diriwayatkan Ibnu ‘Abbās sebagai berikut :
أَنَّ رسولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ كانَ يَقْرَأُ في رَكْعَتَي الْفَجْرِ فى الأُوْلى مِنْهُمَا ﴿ قُولُواْ آمَنَّا بِاللّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا ﴾ الآية الَّتِى فى الْبَقَرَةِ وَفى الآخِرَةِ مِنْهُمَا ﴿ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ ﴾ الآية”. رواهُ مُسْلِمٌ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam ketika melaksanakan sholat sunnah dua raka’at sebelum subuh pada raka’at pertamanya beliau membaca قُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَمَآ اُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۚ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ yang terdapat pada surah al-Baqarah, dan pada raka’at terakhir beliau membaca قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍ ۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ” (H.R. Muslim)
Hadis di atas menunjukkan bolehnya setelah al-Fātihah sekalipun membaca hanya satu ayat saja dari ayat yang terletak di tengah atau akhir surah, bahkan membaca ayat di atas dinilai sunnah[3]. Namun melihat banyaknya hadis yang menyebutkan bahwa kebiasaan Rasulullah setelah al-Fātihah membaca surah secara sempurna dari awal hingga akhir, maka dari sini kemudian ulama menetapkan bahwa membaca satu surah secara sempurna sekalipun tergolong surah pendek itu lebih utama dari pada membaca beberapa ayat dari surah yang tergolong panjang tetapi tidak dibaca secara sempurna dari awal hingga akhir. Hal ini mengingat banyaknya ayat yang memliki hubungan makna yang kuat dengan ayat setelahnya, sebagaimana kuatnya hubungan makna terhadap ayat yang jatuh sebelumnya[4].
Demikian kiranya yang dapat disampaikan untuk pertanyaan di atas, semoga bermanfa’at, wallāhua’lam.
Dijawab Oleh : Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
[1] Ibn al-Qayyim, Zād al-Ma’ād fī Hadyi Khair al-‘Ibād (Lebanon : Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2017) Hlm. 68.
[2] Ibn al-Qayyim, Ibid, Hlm. 67.
[3] An-Nawawī, Al-Minhāj Syarh Shahīh Muslim bin Al-Hajjāj, Juz VI, (Kairo : Dār Al-Ghadd Al-Jadīd, 2008) Hlm. 8.
[4] An-Nawawī, At-Tibyān fī Adābi Hamalah Al-Qur’ān (Kairo : Al-Ibdā’ li al-I’lām wa An-Nasyr , 2011) Hlm. 45.














