MENGHISAB WAKTU SHOLAT DHUHĀ
Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI :
Diantara syarat sah sholat adalah dilakukakannya sholat itu setelah dipastikan masuknya waktu sholat yang bersangkutan, karena setiap sholat memiliki waktu tersendiri. Tidak hanya sholat wajib saja, sholat sunnah yang tidak memilik sabab, mempunyai waktu yang ditentukan awal masuk dan berakhir waktunya.
PERTANYAAN :
Bagaimana cara mengetahui waktu sholat sunnah dhuhā ?
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Prof. Dr. Wahbah Zuhaili (Allah yarhamhu wayunawwiru dharīhahū wa wanfa’unā bi ‘ulūmihī fi ad-dīn) mengatakan bahwa ada 5 waktu yang dilarang melaksanakan sholat di dalamnya yaitu :
- Setelah subuh hingga Matahari meninggi sekitar satu tombak (قَدْر رُمْحٍ)
- Ketika Matahari terbit hingga meninggi seukuran satu tombak, yakni sekitar 1/3 jam dihitung sejak terbit Matahari
- Waktu istiwa’ hingga tergelincirnya Matahari (waktu dzuhur).
- Ketika Matahari tampak menguning hingga terbenam (maghrib)
- Setelah sholat ‘asar hingga terbenam Matahari (maghrib)
Untuk waktu sholat dhuhā, paling awal bisa dilaksanakan 20 menit setelah terbit Matahari (طُلُوْع/شُرُوْق) sebagaimana ditunjukkan pada nomor ke 2, dengan redaksi aslinya :
وَقْت طُلوعِ الشَّمْسِ حتى تَرتفِعَ قدرَ رُمْحٍ أيْ بعدَ طلوعِها بِمِقْدَارِ ثُلُثِ سَاعَةٍ[1]
Ahmad Ghazali ahli hisab berdarah Madura menyatakan bahwa waktu dhuhā dimulai sejak Matahari meninggi sekitar 4,50 (18 menit) ditambah waktu ihtiyāth (kehati-hatian untuk meyakinkan masuknya waktu) 00 30’ sampai 00 450 (2 hingga 3 menit)[2]. Untuk mengetahui pergerakan Matahari dalam derajat busur adalah dengan membagi satu lingkaran 3600 (dengan mengasumsikan langit sebagai sebuah lingkaran 360 derajat) dengan 24 jam (waktu dalam sehari semalam). Hasilnya adalah 120/jam. Jika angka tersebut diperkecil, maka hasilnya 10/4 menit, artinya untuk pergerakan benda langit termasuk Matahari sejauh 10 membutuhkan waktu 4 menit. Nah, untuk ukuran ketinggian Matahari 4,50 itu, sesungguhnya membutuhkan waktu selama 18 menit, dan jika ditambah dengan waktu ihtiyāth 2 menit, maka masuknya waktu sholat dhuhā itu ialah 20 menit dihitung dari waktu terbit Matahari (thulū’/ syurūq).
Jika memperhatikan jadwal sholat yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Kabupaten Jembrana untuk hari Ahad, 13 Ramadhān 1445 H/ 23 Maret 2024, waktu terbit Matahari pada pukul 06.22 WITA, maka sholat dhuhā sudah bisa dilaksanakan sejak pukul 06.42 WITA. Sejak waktu tersebut, sholat dhuhā bisa dilaksanakan dan berakhir hingga masuknya waktu istiwā’ (posisi Matahari berada di atas kepala) yaitu sebesar nilai diameter Matahari 0° 32’ yang jika diukur dalam satuan waktu selama 2 menit + 8 detik, dan untuk lebih meyakinkan ditambahkan waktu ihtiyath ± 2 menit. Artinya waktu dhuhā berakhir sekitar 5 menit sebelum zawāl (waktu dzuhur), Wallāhua’lam.
[1] Wahbah Zuhailī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū, Juz I, (tanpa tempat penerbit, tanpa nama penerbit : tanpa tahun) Hlm. 519-920.
[2]Ahmad Ghazali, Tsamarāt al-Fikr (Sampang : Pondok Pesantren al-Mubarak Lanbulan, tanpa tahun) Hlm. 5.














