MENJAWAB ADZAN TERLEBIH DAHULU ATAU LANGSUNG SHOLAT SUNNAH?
Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI MASALAH :
Adzan dalam Islam memiliki fungsi yang amat besar ; sebagai petanda masuk waktu sholat lima waktu, sebagai syiar agama Islam dan sebagainya. Bagi orang yang mendengar adzan dianjurkan untuk menjawab dengan cara mengikuti kalimat yang diucapkan muadzdzin (orang yang adzan) selain “hayya’alataini”, di mana jawaban untuk kalimat ini (حَيَّ عَلى الصَّلَاةِ، حيَّ عَلى الفَلَاحِ) adalah dengan mengucapkan tahawwul “لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاللهِ”
PERTANYAAN :
Bagi makmum yang datang di Masjid ketika adzan dukumandangkan, apakah ia menjawab adzan terlebih dahulu atau langsung sholat sunnah tahiyyah al-masjid ?
Penanya : Hasan, Pengambengan – Negara.
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Menjawab adzan sunnah hukumnya dan melakukan sholat dua raka’at ketika memasuki masjid (tahiyyah al-masjid) sunnah pula hukumnya. Nah, Ketika seseorang memasuki masjid sementara adzan sedang dikumandangkan, maka baginya dianjurkan menjawab adzan hingga akhir sambil berdiri. Setelah itu kemudian ia melaksanakan sholat sunnah dua raka’at (tahiyyah al-masjid). Hal ini dilakukan untuk mendapatkan dua fadhilah yaitu keutamaan menjawab adzan dan keutamaan sholat sunnah (tahiyyah al-masjid). Dalam kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu dijelaskan sebagai berikut :
قالَ الشَّافعيَّةُ : وإذَا دخلَ المسجدَ، والمؤذِّنُ قدْ شرعَ في الأذانِ، لمْ يأتِ بتحيَّةٍ ولَا بغيرِها، بَلْ يُجِيْبُ المؤذِّنَ وَاقِفاً حتّى يفرغَ مِنْ أذانِه ليجمَعَ بينَ أجْرِ الإجابةِ والتَّحِيَّةِ
“Ulama’ bermadzhab Syafi’i mengatakan, jika seseorang masuk ke dalam masjid sedangkan muadzdzin sedang mengumandangkan adzan, maka hendaknya ia tidak melakukan shalat sunnah tahiyyah al-masjid atau yang lain, akan tetapi hendaknya ia menjawab adzan dalam keadaan berdiri sampai adzan selesai. Ini dilakukan untuk mendapatkan dua pahala yaitu pahala menjawab adzan dan pahala sholat tahiyyah al-masjid [1]”.
Demikianlah penjelasan atas pertanyaan di atas, semoga bermanfaat, Wallāhua’lam.
[1] Wahbah Zuhailī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū, Juz I, (Tanpa tempat penerbit, tanpa nama penerbit : tanpa tahun) Hlm. 555.














