Menu

Mode Gelap
KETENTUAN SHOLAT DI PESAWAT SUAMI MELARANG ISTRI MENGUNJUNGI ORANG TUANYA Tafsir Surat Al Baqoroh 271 Malam Senin 24 September 2023 // Ustadz KH. Tafsir. LC, MPdI Ngaji Syarah Bulughul Maram Bab Adzan (bag 2) 17 Sept 2023 // Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI Tafsir Al Baqoroh 270 Malam Senin 17 September 2023 // Ustadz KH. Tafsir. LC, MPdI

Khutbah Jumat · 13 Jul 2024 16:46 WITA

MENYIKAPI BULAN MUHARROM SESUAI SYARIAT ISLAM”


 MENYIKAPI BULAN MUHARROM SESUAI SYARIAT ISLAM” Perbesar

 

Khutbah Jum’at, oleh : Shohabil Mahalli, S.Pd.I, M.S.I.

Disampaikan Pada 12 Juli 2024 di Masjid Jami’ Darussalam Kombading

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الخطبة الأولى

اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِأَدَاءِ الشّرَائِعَ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ السَّمِيْعُ الْبَدِيْعُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الشَّفِيْعُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قال تبارك وتعالى وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Jamaah jum’at yang berbahagia ! Muharrom adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di dalamnya terdapat Hari ‘āsyūrō’, hari kesepuluh bulan Muharrom, hari yang sarat dengan sejarah. Ia dimuliakan pada masa jahiliyah dan dimuliakan dalam Islam.

Ketika Rasulullah tiba di Madinah dalam perjalanan hijrahnya, Rasulullah menemukan orang-orang Yahudi berpuasa di hari ‘āsyūrō’ itu, setelah Rasulullah mendengar alasan mereka berpuasa kemudian Rasulullah pun berpuasa dan menyuruh para sahabatnya untuk berpuasa di hari itu. Sahabat Ibnu ‘Abbas meriwatkan :

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ ، فَصَامَهُ، وأَمَرَ بصِيَامِهِ

 

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya :”Apa ini?” Mereka menjawab :”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka nabi Musa berpuasa pada hari itu. Kemudian Rasulullah bersabda :”Aku lebih berhak terhadap nabi Musa daripada kalian (Yahudi), maka Kemudian Rasulullah berpuasa dan memerintahkan sahabatnya untuk berpuasa pada hari itu” (H.R. Bukhory)

Tidak hanya karena Nabi Musa diselamatkan dari kejaran Fir’aun di hari ‘āsyūrō’ yang mendorong disyariatkannya berpuasa di hari itu, jauh sebelumnya Nabi Nuh diselamatkan dari banjir besar yang menenggelamkan kaumnya yang tidak beriman terjadi pada hari ‘āsyūrō’, mendaratnya perahu Nabi Nuh di bukit judy terjadi pada hari ‘āsyūrō’ sehingga Nabi Nuh pun berpuasa di hari ‘āsyūrō’. Al-Qur’an merekam peristiwa ini dalam surah al-‘Ankabut :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِۦ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ وَهُمْ ظَٰلِمُونَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al-‘Ankabut : 14)

 

Jama’ah rahimakumullah ! Teramat besar pahala berpuasa di hari ‘āsyūrō’. Disebutkan dalam suatu hadis :

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صِيامِ يَوْمِ عَاشُوراءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ المَاضِيَةَ. (رواه مسلم)

 

“Sungguh Rasulullah saw pernah ditanya tentang keutamaan puasa hari Asyura, lalu beliau bersabda “Puasa ‘āsyūrō’ melebur dosa-dosa setahun yang telah terlewati (HR Muslim).

Sekalipun pahala puasa di hari ‘āsyūrō’ amat besar, tetapi pahala ini separuh jika dibandingkan dengan nilai pahala puasa di hari ‘arofah di mana puasa ‘arofah dapat meleburkan dosa selama dua tahun. Hal ini membuktikan bahwa syari’at puasa ‘arofah yang diperuntukkan untuk umat Rasulullah memiliki fadhilah dan keutamaan di atas syari’at puasa ‘āsyūrō’ yang diturunkan untuk umat nabi Nuh dan nabi Musa ‘alaihimassalam.

Sekalipun dengan pahala yang berlipat pada puasa ‘āsyūrō’, Rasulullah menginginkan agar puasa ‘āsyūrō’ dilaksanakan tidak seperti orang-orang ahlul kitab melaksanakannya, hanya berpuasa di hari itu saja, tetapi beliau ingin menambahkan dengan puasa sehari sebelumnya yakni tāsū’ā’. Sebelum wafatnya, beliau bersabda :

لئِنْ بَقِيتُ إلى قابِلٍ، لأَصومَنَّ اليومَ التاسِعَ

“jika aku masih hidup sampai tahun depan, maka sungguh aku benar-benar akan berpuasa pada hari kesembilan (tāsū’ā’)”. (H.R. Ibnu Majah)

Jama’ah yang berbahagia ! Dalam perkembangan syari’at, Rasulullah tentu berdasarkan wahyu dari Allah, mengambil beberapa tindakan dalam menyikapi puasa ‘āsyūrō’ sebagai syari’at yg telah diberlakukan sebelumnya yaitu :

Pertama ; pada periode Makkah, Rasulullah berpuasa sendirian tanpa menyuruh sahabatnya

Kedua ; pada periode awal di Madinah, melihat ahlul kitab memuliakan hari ‘āsyūrō’ dan berpuasa pada hari itu, Rasulullah berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa dan tidak meninggalkannya.

Ketiga ; ketika Ramadhan diwajibkan untuk ummat Islam berpuasa, Rasulullah tidak memaksakan diri untuk berpuasa ‘āsyūrō’

Keempat ; di akhir hayatnya, Rasulullah berniat untuk berpuasa sehari sebelum ‘āsyūrō’ yakni hari tāsū’ā’,

Jama’ah yang berbahgia ! ‘āsyūrō’ berikutnya menyisakan sejarah buruk, di mana terjadi Pertempuran di Karbala Irak pada 10 Muharrom tahun ke-61 Hijriyah, bertepatan dengan 10 Oktober tahun 680 Masehi. Pasukan yang sangat kecil, yaitu 45 pasukan berkuda dan kurang lebih 100 infanteri, pasukan pejalan kaki, yang menyertai Cucu Rasulullah, Pimpinan Pemuda para penghuni surga, Husain bin Fatimah binti Rasulillah saw berhadapan dengan pasukan Ubaidillah bin Ziyad dari kubu Yazid bin Mu’awiyah dengan pasukan yang tidak kurang dari 4.000 (empat ribu) pasukan berkuda.

Pertempuran yang sangat tidak imbang antara kubu Sayid Husain di satu sisi dan kubu Yazid bin Mu’awiyah di sisi lain, akhirnya merenggut banyak korban, termasuk Pimpinan Pemuda para penghuni surga, Husain bin Fatimah binti Rasulillah shallallāhu ‘alaihi wasallam. إنّا لله وإنّا إليهِ رَاجعُون

Atas tragedi Karbala tersebut, Ummat Islam tidak boleh mengenangnya dengan cara-cara jahiliyah, seperti meratapi, menampar-nampar dada dan pipi, merobek-robek pakaian bahkan melukai diri sendiri yang dengan hal itu menandakan diri tidak menerima dan tidak rela atas taqdir Allah. Seandainya pun cara-cara itu disyariatkan, niscaya hari wafatnya Rasulullah saw lebih layak diperingati dengan cara demikian daripada wafatnya cucu beliau. Diriwayatkan dari sahabat ‘Abdullah Ibnu Mas’ud RA bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ، أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ، أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Bukan dari cara hidup golongan kami, orang yang menampar-nampar pipi, merobek-robek kerah baju, dan menyeru dengan seruan jahiliyyah (meratap).” (HR. Bukhari).

Akhirnya marilah kita penuhi bulan Muharram sebagai tahun baru Islam ini dengan berbagai amal sholih serta menjauhkan diri dari hal-hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.

بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الايات والذكرالحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم

 

الخطبة الثانية

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ  أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Artikel ini telah dibaca 74 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

MENYUDAHI KONFLIK DAN MENEBARKAN RASA KASIH TERHADAP SESAMA

19 Juni 2024 - 09:13 WITA

MENUMBUHKAN SPIRITUALITAS DENGAN BERHAJI

2 Juni 2024 - 13:48 WITA

Trending di Khutbah Jumat