DESKRIPSI MASALAH :
Ramadhān merupakan bulan yang agung dalam Islam. Di dalamnya selama satu bulan penuh, umat Islam diwajibkan menjalani puasa di siang harinya dengan berbagai ketentuan berupa syarat sah, anjuran dan sebagainya, sementara di malam harinya terdapat sholat sunnah yakni tarawih yang hanya bisa dilakukan di malam Ramadhān saja. Termasuk yang membuat Ramadhān lebih semarak dengan adanya tilāwah dan tadārus al-Qur’ān yang kerap disuarakan di Masjid dan Surau. Sehingga bagi umat Islam, aktivitas dan suasana di bulan tentu tidak sama dan berbeda dengan bulan lainnya. Mengingat puasa merupakan ibadah – sebagaimana sholat – untuk memulai puasa dibutuhkan adanya niat.
PERTANYAAN :
Bagaimana niat puasa Ramadhān menurut imam Mālik ?
Penanya : Arif, Pengambengan
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Ramadhān merupakan bulan yang dirindukan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam. Dalam sebuah hadis yang dinukil oleh Imam An-Nawawī dalam kitab Al-Adzkār yang bersumber dari sahabat Anas bahwa Rasulullāh apabila memasuki bulan Rajab beliau berdo’a :
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ[1]
“Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan pada bulan Sya’ban serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadlan.”
Sebagai suatu ibadah, puasa harus diawali dengan niat. Niat yang diucapkan di malam hari, idealnya dilakukan secara verbal (lisan). Namun puasa Ramadhān yang dilakukan tanpa niat yang diucapkan di malam harinya tetap dinilai sah selama ada sikap dan perilaku yang menggambarkan adanya maksud berpuasa seperti makan sahur dan sebagainya, karena hal itu sudah mencakup niat berpuasa[2].
Niat puasa Ramadhān dalam madzhab Mālikī tidak harus dilakukan setiap malam selama bulan Ramadhān.
تُجْزِئُ نِيَّةٌ وَاحِدَةٌ لِرَمَضَانَ فِي أَوَّلِه، فَيَجُوْزُ صَوْمُ جَمِيْعِ الشَّهْرِ بِنِيَّةٍ وَاحِدَةٍ
“Berniat satu kali saja di awal itu mencukupi untuk berpuasa satu bulan Ramadhān, sehingga berpuasa satu bulan Ramadhān penuh boleh dengan niat satu kali (di awalnya saja).”
Dengan demikian niat puasa di awal Ramadhān dalam madzhab imam Mālik cukup dengan mengucapkan redaksi niat berikut :
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى
“Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhān tahun ini fardhu karena Allah ta’āla”
Pendapat madzhab di atas didasarkan kepada pemahaman atas firman Allah berikut:
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Mengingat kata “الشَّهْر” itu merujuk kepada satu tempo waktu, berpuasa sejak awal hingga akhir bulan (Ramadhān) dinilai sebagai satu ibadah sebagaimana sholat dan haji, sehingga cukup dilakukan dengan sekali niat saja. hal ini tentu berbeda dengan pemahaman jumhur (mayoritas) ulama, di mana setiap satu kali berpuasa dihitung sebagai satu ibadah tersendiri, sehingga niat puasa harus dijatuhkan pada tiap kali hendak berpuasa. Namun demikian dalam madzhab Mālikī ini, mengulang niat pada tiap malamnya sunnah dilakukan[3].
Demikian jawaban dari pertanyaan di atas, Allāhua’lam.
Dijawab Oleh : Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
[1] An-Nawawī, Al-Adzkār An-Nawawiyyah, (Semarang : Toha Putera, tanpa tahun) Hlm. 161.
[2] Muhammad Hasan Haitū, Fiqh Ash-Shiyām, (Beirut : Dār Al-Basyā’ir Al-Islāmiyyah, 1988) Hlm. 39 -40.
[3] Wahbah Zuhailī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū, Juz II, (Tanpa tempat penerbit, tanpa nama penerbit : tanpa tahun) Hlm. 624.














