Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
Deskripsi Masalah :
Di beberapa negara dan daerah ada yang melakukan qunūt setelah bangun dari ruku’ rakaat terakhir sholat subuh, tetapi di beberapa daerah lainnya qunūt subuh tidak dilakukan.
Pertanyaan :
Bagaimana persoalan qunūt subuh ini ?
Jawaban :
Pertanyaan yang baik !
Ulama sepakat tentang disyariatkannya qunūt pada sholat, namun diantara mereka berbeda pendapat tentang tempat di mana qunūt itu dilakukan. Diantara yang diperselisihkan yaitu qunūt pada sholat subuh, Menurut imam Hanafi dan Imam Hanbali, tidak ada qunūt pada sholat subuh, sedangkan menurut imam Maliki dan Imam Syafi’i qunūt shubuh itu disunnahkan (Syaikh Ali Jum’ah, al-Bayān al-Qawīm).
Syaraf ad-Din an-Nawawi, Seorang ulama ahli hadis abad ke VII Hijriyah menguatkan hukum sunnah qunūt subuh berdasarkan hadis Riwayat sahabat Anas (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz III). Hadis tersebut adalah :
مَا زَالَ رَسُولُ الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلَّم يَقْنُتُ فِي الْفجْر حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا
“Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa membaca qunut ketika shalat Subuh sehingga beliau wafat”. (H.R. Ahmad dan al-Dāruquthnī)
Akhirnya, kontroversi qunūt subuh ini harus disikapi secara bijak. Orang yang tidak biasa melakukan qunūt, ketika mengikuti imam yang melakukan qunūt, maka ia tidak perlu mufāraqah (keluar dari jama’ah), tetapi hendaknya ia sabar menunggu. Begitu pula orang yang sudah terbiasa melakukan qunūt subuh, ketika mengikuti imam yang tidak (biasa) melakukan qunūt, maka ia tetap mengikuti imam, tidak memaksakan diri untuk melakukan qunūt sendirian. Ummat Islam tidak boleh terpecah-belah hanya karena qunūt subuh, karena qunūt merupakan masalah furū’iyyah (cabang-cabang agama) dan bukan persoalan ushūliyyah (pokok-pokok agama),wallāhua’lam.














