Dijawab oleh Ust. Al Hafidz Shohabil Mahalli, M.S.I.
DESKRIPSI :
Atas musibah yang menimpa umat Islam, dianjurkan mendo’akan mereka. Untuk menunjukkan kepedulian ini, mendo’akan tidak hanya dilakukan di luar sholat, tetapi disyari’atkan dilakukan ketika sedang melaksanakan sholat dalam bentuk qunūt nāzilah.
PERTANYAAN :
Bagaimanakah redaksi do’a yang diucapkan pada qunūt nāzilah?
Penanya : Munifah, Pengambengan.
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Dalam sejarahnya, Rasulullah SAW dan para khalifah melakukan qunūt nāzilah ini atas peristiwa yang sedang melanda umat Islam ketika itu. Seperti peristiwa pembantaian yang dialami para sahabat utusan Rasulullah di Bi’ri Ma’ūnah. Sehubungan dengan peristiwa ini Rasulullah melakukan qunūt nāzilah pada sholat subuh selama satu bulan lamanya.
Mengutip dari kitab Al-adzkār An-Nawawiyyah, berikut redaksi qunūt amīrul mu’minīn Umar bin Khaththāb yang baik diucapkan ketika melakukan Qunūt Nāzilah yang digabung dan dibaca setelah bacaan qunūt subuh.
اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ. اللَّهُمَّ عَذِّبِ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِك وَيُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ وَيُقَاتِلُونَ أَوْلِيَاءَكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَاجْعَلْ فِي قُلُوبِهِمْ الْإِيمَانَ وَالْحِكْمَةَ وَثَبِّتْهُمْ عَلَى مِلَّةِ رَسُولِكَ وَأَوْزِعْهُمْ أَنْ يُوفُوا بِعَهْدِك الَّذِي عَاهَدْتَهُمْ عَلَيْهِ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ إلهَ الْحَقِّ وَاجْعَلْنَا مِنْهُمْ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
“Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan. Dan berilah kesehatan kepada kami sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesehatan. Dan peliharalah kami sebagaimana orang yang telah Engkau pelihara. Dan berilah keberkahan kepada kami apa-apa yang telah Engkau karuniakan. Dan selamatkan kami dari bahaya keburukan yang Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan bukan yang ditentukan. Dan sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pelihara. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya. Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau. Maka bagi Engkau segala pujian atas segala yang Engkau tentukan. Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. Tuhan kami, jatuhkan azab orang-orang kafir yang berupaya menghalangi orang lain dari jalan-Mu, dan mereka yang mendustakan rasul-Mu, dan mereka yang memerangi kekasih-kekasih-Mu. Ya Allah, ampunilah orang-orang yang beriman dari kalangan laki-laki dan perempuan, orang-orang Islam laki-laki dan perempuan, dan damaikan pertikaian di antara sesame kaum muslimin, persatukanlah hati mereka, masukkan kekuatan iman dan hikmah di dalam hati mereka, dan tetapkanlah mereka di atas jalan rasul-Mu, dan ilhami mereka agar memenuhi perjanjian yang telah engkau ikat dengan mereka, dan bantulah mereka mengatasi musuh-Mu dan musuh mereka. Wahai Tuhan yang Haq, dan masukkanlah kami ke dalam golongan mereka itu. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat dan sejahtera untuk sayyid kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.”[1].
Redaksi Qunūt nāzilah dapat disesuaikan dengan kondisi yang sedang terjadi, seperti mengabungkan do’a mohon hujan atas musim kemarau yang berkepanjangan. Qunūt nāzilah diucapkan setelah membaca qunūt subuh, kemudian diakhiri dengan shalawat atas Nabi sebagaimana do’a qunūt di atas. Untuk Qunūt nāzilah ini tidak hanya dapat dilakukan pada sholat subuh saja, tetapi dapat dilakukan pada tiap akhir raka’at sholat (setelah ruku’). Sehingga apabila dilakukan pada sholat di siang hari seperti sholat dzhuhur dan ‘ashr, selaku imam melakukannya secara السِرّ (suara lirih). Dan apabila dilakukan di malam hari seperti pada sholat subuh, maghrib dan ‘isya, imam melakukannya dengan suara keras (الجَهْر)[2].
Demikian,Wallāhua’lam.
[1] An-Nawawī, Al-Adzkār An-Nawawiyyah (Semarang : Toha Putera, tanpa tahun) Hlm. 49. Lihat pula Sayyid Bakrī, Hāsyiyah I’ānah Ath-Thālibīn, Juz I (Beirut : Dār Ibn ‘Ash-Shāshah, 2005) Hlm. 186 – 189.
[2] An-Nawawī, Ibid, Hlm. 50.














