Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
Deskripsi Masalah :
untuk menunjukkan keikhlasan seseorang, maka niat pada tiap-tiap ibadah menjadi keharusan yang diucapkan dalam hati dan menjadi anjuran untuk dilafalkan. termasuk dalam puasa Ramadhan, niat menjadi syarat sahnya.
Pertanyaan :
bagaimana redaksi niat berpuasa Ramadhan yang benar baik dari sisi substansi maupun redaksinya ?
Jawaban :
Pertanyaan baik ! Hal yang harus dipenuhi dan menjadi syarat sah niat puasa Ramadahan pertama ; menjatuhkan niat di malam hari (تَبْيِيْت). Adapun batasan malam dihitung sejak maghrib hingga subuh. kedua ; menetukan jenis puasa ketika berniat (تَعْيِيْن) sesuai dengan jenis puasa yang akan dilaksanakan seperti puasa Ramadhan, nadzr, atau kaffārah.
ِAdapun bentuk redaksi yang benar secara i’rab (harakah di akhir kata) sesuai kaedah dalam ilmu tata bahasa Arab (Nahwu) adalah :
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِه السَّنَةِ لِلّهِ تَعَالى
“Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan wajibnya berpuasa bulan Ramadhan ini tahun karena Allah ta’ala”
Bentuk redaksi yang benar yaitu dengan membaca majrūr (dengan kasrah) pada kata رَمَضَانِ sebagai mudhaf terhadap kalimat sesudahnya sekaligus menjadi mudhaf ilaih dari kalimat sebelumnya. Karena diantara ketentuan dalam mudhaf adalah mengembalikan isim yang tidak munsharif menjadi munsharif sehingga yang tadinya majrur dengan fathah, kembali majrurnya menjadi kasrah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam nadzm Alfiyah sebagai berikut :
وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لَا يَنْصَرِفْ # مَا لَمْ يُضَفْ أَوْ يَكُ بَعْدَ اَلْ رَدِفْ
“Isim ghairu munsharif dimajrurkan dengan harakat fathah, selama tidak mudhaf (diidhafahkan) atau tidak kemasukan alif lam”
Redaksi niat di atas dijelaskan oleh Sayyid Bakri dalam kitab I’ānah ath-Thālibīn juz II, halaman 253 dan kaedah tata bahasa di atas dijelaskan oleh Ibnu ‘Aqil dalam Syarh Alfiyyah Ibnu Malik halaman 13. Wallāhua’lam.














