MUSĀFIR BERMAKMUM PADA IMAM YANG MUQĪM
Dijawab oleh Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
DESKRIPSI MASALAH :
Islam dengan syariatnya hadir dengan nilai-nilai keadilan. Sehingga diberikan keringan (rukhshah) bagi orang yang berada dalam kesulitan dan kesusahan agar setiap orang dapat menjalankan ajaran agama dalam keadaan bagaimana pun. Diantara sebab yang memperbolehkan seseorang mendapat rukhshah ialah bepergian, dengan bepergian seseorang dibolehkan ifthār (tidak berpuasa Ramadhān), menjamak sholat (melaksanakan dua sholat dalam satu waktu) dan mengqasharnya (meringkas raka’at yang empat mejadi dua).
PERTANYAAN :
Bolehkah musāfir mengikuti jama’ah sholat fardhu di Masjid dengan menjamak sholatnya?
Penanya : Rohman, Loloan Timur
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Terdapat beberapa ketentuan bagi orang yang berada dalam perjalanan (musāfir) diantaranya :
- Menurut jumhūr (mayoritas ulama), tidak boleh musāfir yang mengqashar sholatnya mengikuti imam yang sholatnya tidak qashr, seperti musāfir yang mengqashar sholat dzuhurnya dengan mengikuti sholat Jum’at. Imam An-Nawawī berkata :
وَإِنْ أرادَ أنْ يقصُرَ الظُّهرَ خلْفَ مَنْ يُصلِّى الجمعةَ لَمْ يَجُزْ لأنَّهُ مؤْتِمٌّ بِمُقِيْمٍ ولأنَّ الجمعةَ صلاةٌ تامَّةٌ فهُوَ كالمُؤْتِمِّ بمَنْ يُصَلِّى الظهرَ تامَّةً
“Apabila seseorang (musāfir) hendak mengqashar sholatnya di belakang (bermakmum kepada) orang yang sedang sholat Jum’at, hukumnya tidak boleh, sebab (dengan demikian) musāfir itu bermakmum kepada orang muqīm (yang sholatnya tidak qashar). Karena sholat Jum’at itu adalah sholat yang sempurna (tidak dan bukan sholat qashr), dengan demikian sama saja ia bermakmum kepada orang yang melakukan sholat Dzuhur tidak qashr”[1].
Apabila musāfir hendak bermakmum kepada orang muqīm, maka ia harus menyempurnakan sholatnya (4 raka’at), tidak mengqasharnya (2 raka’at).
- Orang yang sholatnya sempurna (المُتِمُّ بصلاتِه) diperbolehkan mengikuti imam yang sholatnya diringkas (القاصِر بصلاتِه), ketika imam salam pada raka’at terakhirnya (raka’at kedua bagi makmum), maka makmum melanjutkan sholatnya hingga akhir (empat raka’at). Imam An-Nawawi berkata :
اِذِا صَلَّى مسَافِرٌ بمسافرينَ ومُقِيْمِيْنَ جازَ ويقْصُرُ الإمامُ والمُسَافِرُونَ ويُتِمُّ المُقِيْمُونَ وَيُسَنُّ للإمامِ أنْ يقولَ عقبَ سلامِه “أتِمُّوْا فإنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ”
“Apabila seorang musafīr sholat bersama para musāfir dan muqīmīn (orang-orang yang tidak dalam perjalanan), mukumnya boleh. Imam boleh mengqahsar sholatnya (meringkas sholat 4 raka’at menjadi 2 raka’at), begitu pula para musāfir lainnya, sedangkan muqīmīn menyempurnakan sholatnya (sebanyak 4 raka’at). Dan imam setelah salamnya (keluar dari sholat) disunnahkan mengatakan “lanjutkan untuk menyempurnakan sholat kalian, kami ini orang-orang dalam perjalanan”[2].
Cara berjama’ah di atas pernah terjadi pada perang Tabuk dan Fathu Makkah, di mana Rasulullah mengimami para muqīmīn, sementara beliau sendiri mengqashar sholatnya. Ketika setelah salam beliau mengatakan :
يَا أهْلَ الْبَلَدِ صَلُّوْا أَرْبَعًا فإنَّا قَوْمٌ سَفْرٌ
“Wahai penduduk setempat, lanjutkan sholat kalian empat raka’at, sementara kami sedang dalam perjalanan”[3].
- Musāfir boleh menjamak sholatnya dengan bermakmum kepada muqīm (orang setempat yang tidak dalam perjalanan). Sehingga apabila musāfir menjumpai jama’ah sholat Jum’at, diperbolehkan baginya sholat berjama’ah Jum’at dengan niat menjamak sholat Jum’at (bukan niat mengqashar sholat Dzuhur) dengan sholat Ashar. Syekh Sulaiman Al-Bujairimī mengatakan:
قولُه (والجُمعةُ كالظُّهْرِ في جمْعِ التَّقدِيمِ) أي كأنْ دَخَلَ المُسافِرُ قرْيَةً بِطَريْقِه يومَ الجمعَةِ فالأَفْضَلُ في حَقِّه الظُّهْرُ، لكِنْ لَوْ صلَّى الجمعَةَ مَعَهُمْ فَيَجُوْزُ لَه فِي هذِه الحَالَةِ أن يَجْمَعَ العَصْرَ مَعَهَا تَقْدِيمًا
“Ucapan Syekh Khathīb (Shalat Jum’at itu hukumnya sama dengan shalat dzuhur dalam masalah jamak taqdīm) artinya seperti seorang musāfir memasuki suatu desa di hari Jum’at, di tengah perjalanannya, maka yang lebih utama baginya adalah melaksanakan sholat dzuhur saja. Namun apabila ia shalat Jum’at bersama penduduk setempat, boleh baginya dalam kondisi demikian untuk menjamak sholat ‘Ashar (dengan shalat Jum’at) dengan jamak taqdīm (sholat Ashar dilaksanakan di waktu Dzhuhur)”[4].
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa musāfir boleh berjam’ah dengan muqīm, baik dengan menjamak sholatnya atau pun tidak menjamaknya dengan ketentuan ia (musafir) tidak mengqashar sholatnya. Demikian penjelasan dari pertanyaan di atas, wallāhua’lam.
[1] An-Nawawī, Al-Majmū’ Syarh al- Muhadzdzab, juz IV, (Tanpa Tempat : Idārah ath-Thibā’iyyah al-Munīriyyah, Tanpa Tahun), Hlm. 355.
[2] An-Nawawī, Ibid, Hlm. 357.
[3] Hasan Sulaimān an-Nūrī dan ‘Alawī ‘Abbās al-Mālikī, Ibānah al-Ahkām Syarh Bulūgh al-Marām, Juz II, (Beirut : Dār al-Firr, 2012) Hlm. 41-42.
[4] Sulaimān Bujairimī, al-Bujairimī ‘ala al-Khatīb, Juz II, (Beirut : Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2008) Hlm. 380.














