Dijawab oleh Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
DESKRIPSI :
Islam memiliki dua hari raya yaitu idul fitri dan idul adha. Pada kedua hari raya itu umat Islam disunnahkan melaksanakan sholat di pagi hari kecuali sholat idul adha tidak dianjurkan bagi orang-orang yang sedang melaksanakan manasik haji, mengingat di hari itu mereka disibukkan dengan manasiknya. Karena sholat sunnah idul fitri dan idul adha disyariatkan secara berjama’ah, tentu imam memegang peran penting dalam keberlangsungan dan kesempurnaan sholat. Namun terkadang setelah takbiratul ihram, tanpa ada jeda, imam segera takbir 7 (tujuh kali).
PERTANYAAN :
Kapankah do’a iftitāh dibaca pada sholat idul fitri dan idul adha ?
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Do’a iftitāh – disebut pula dengan do’a istiftāh – selalu dibaca pada tiap-tiap sholat termasuk sholat idul fitri dan idul adha kecuali pada sholat jenazah, do’a iftitāh tidak dibaca. Do’a iftitāh pada sholat idul fitri dan idul adha dibaca setelah takbiratul ihram, sebagaimana pada sholat lainnya. Dalam kitab Al-Majmū’ Syarh al- Muhadzdzab dijelaskan sebagai berikut :
وأمَّا الأكمَلُ فأنْ يقرَأ بعدَ تكبيرةِ الإحْرَامِ دعاءَ الإستِفْتَاحِ ثُمَّ يُكَبِّرَ فى الركعةِ الأوْلى سبْعَ تكبيرَاتٍ سِوَى تكبيرةِ الإحْرَامِ وسِوَى تكبيرةِ الرُّكُوعِ وفى الثانيةِ خمسًا سِوَى تكبيرةِ القيامِ من السُّجُودِ والهوِيِّ إِلى الرُّكُوْعِ[1].
“Sedangkan cara yang paling sempurna (dalam pelaksanaan sholat ‘īd) yaitu setelah takbiratul ihram membaca do’a istiftāh (iftitāh), kemudian setelah itu takbir 7 (tujuh) kali pada raka’at pertama selain takbiratul ihram dan selain takbir untuk ruku’, dan takbir 5 (lima) kali untuk raka’at kedua selain takbir bangun dari sujud (kedua) dan selain takbir turun (untuk ruku’).”
Do’a iftitāh sendiri, berdasarkan redaksi dari beberapa riwayat hadis cukup beragam[2], dengan redaksi yang mana saja bisa diamalkan. Diantara do’a iftitāh itu yang banyak dihapal adalah dengan redaksi sebagai berikut :
اللهُ أكبرُ كبيرًا والحمْدُ للهِ كثيرًا وسبْحَانَ اللهِ بُكرةً وأَصيْلًا وَّجَّهْتُ وَجْهِيَ للَّذِيْ فَطَرَ السَّمواتِ والأرضَ حنِيْفًا مُسْلمًا ومَا أنا مِنَ المُشْرِكِيْنَ إِنَّ صَلَاتِى ونُسُكِيْ ومَحْيَايَ ومَمَاتِيْ للهِ ربِّ العالَمِينَ لَاشرِيْكَ لهُ وبِذلِكَ أُمِرْتُ وأَنَا مِنَ المُسْلمِيْنَ
Dengan demikian, maka do’a iftitāh pada sholat idul fitri dan idul adha sama saja dengan do’a iftitāh pada sholat lainnya, yakni dibaca setelah takiratul ihram. Dan untuk sholat idul fitri dan sholat idul adha, doa’ iftitāh ini dibaca setelah takbiratul ihram, sebelum takbir 7 (tujuh) kali itu. Selaku imam pada pelaksanaan sholat idul fitri atau idul adha, hendaknya tidak menyambung takbiratul ihram dengan takbir setelahnya (tujuh kali itu), tetapi setelah takbiratul ihram membaca do’a iftitāh, kemudian setelah itu dilanjutkan dengan takbir setelahnya sejumlah 7 (tujuh) kali, dilanjutkan dengan membaca surah al-Fātihah dan seterusnya. Dengan demikian, dengan adanya jeda setelah takbiratul ihram itu, makmum dapat membaca do’a iftitāh, sehingga sholat hari raya dapat terlaksana secara sempurna. Wallāhua’lam.
[1] An-Nawawī, Al-Majmū’ Syarh al- Muhadzdzab, juz V, (Tanpa Tempat : Idārah ath-Thibā’iyyah al-Munīriyyah, Tanpa Tahun), Hlm. 17.
[2]An-Nawawī, al-Bantanī, Nihāyah az-Zaīn fī Irsyād al-Mubtadi’īn, (Indonesia : Al-Haramaīn, 2005) Hlm. 62





