Menu

Mode Gelap
KETENTUAN SHOLAT DI PESAWAT SUAMI MELARANG ISTRI MENGUNJUNGI ORANG TUANYA Tafsir Surat Al Baqoroh 271 Malam Senin 24 September 2023 // Ustadz KH. Tafsir. LC, MPdI Ngaji Syarah Bulughul Maram Bab Adzan (bag 2) 17 Sept 2023 // Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI Tafsir Al Baqoroh 270 Malam Senin 17 September 2023 // Ustadz KH. Tafsir. LC, MPdI

Konsultasi Islam · 1 Apr 2024 04:28 WITA

NIAT DAN DO’A DALAM BERZAKAT


					NIAT DAN DO’A DALAM BERZAKAT Perbesar

NIAT DAN DO’A DALAM BERZAKAT

 

Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI

DESKRIPSI MASALAH :

Semua ibadah membutuhkan niat, baik ibadah yang wajib maupun yang sunnah. Niat dalam ibadah selain menunjukkan sikap Ikhlas, juga dibutuhkan untuk membedakan antara satu jenis amaliyah dengan amaliyah lainnya, tak terkecuali dalam ibadah zakat, muzakki (orang yang berzakat) wajib menyertakan niat ketika mengeluarkan zakatnya dan mustahiq dianjurkan untuk mendo’akan muzakki.

 

PERTANYAAN :

Bagaimana redaksi niat dalam berzakat dan redaksi do’a ketika menerima zakat ?

Penanya : Asmah, Pengambengan.

 

JAWABAN :

Pertanyaan baik !

Untuk memulai merespons pertanyaan di atas, setidaknya terdapat satu ayat al-Qur’an dan satu hadis Rasulullah SAW berikut untuk dicermati.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Q.S. Al-Bayyinah : 5).

الأعْمَالُ بالنِّيَّةِ، فمَن كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إلَيْهِ. وَمَن كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللَّهِ ورَسولِهِ فَهِجْرَتُهُ إلى اللَّهِ ورَسولِهِ[1].

“Amalan-amalan itu tergantung pada niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut. Dan barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya”. (H.R. Bukhāri).

Kedua dalil di atas ini menjadikan niat itu sebagai unsur yang harus hadir dalam setiap bentuk ibadah. Prinsip niat adalah melakukan sesuatu atas dasar kesadaran untuk mentaati perintah Allah SWT. Dengan adanya niat yang tulus ini, sesungguhnya menjauhkan diri setiap orang dari sikap yang tak terpuji seperti riyā’ (ingin dilihat kebaikannya), sum’ah (ingin dibicarakan kebaikannya) dan sebagainya.

Dalam mengeluarkan dan membayar zakat, niat itu diwajibkan untuk membedakan zakat yang wajib dari shodaqoh sunnah. Sedangkan bentuk redaksinya minimal dengan mengatakan “ini adalah zakat hartaku atau zakat fitrahku”. Tentang waktu mengucapkan niat itu ialah di saat menyerahkan zakat kepada mustahiq atau kepada wakil (jika mewakilkan diri untuk menyerahkannya) atau boleh juga niat di atas diucapkan (sekalipun hanya dalam hati) ketika harta zakat itu dipisahkan dari harta lainnya[2].

Sekalipun niat itu hanya wajib dihadirkan dalam hati dengan bahasa yang dimengerti, tetapi untuk meneguhkan dan meyakinkan diri, niat itu perlu diucapkan di mulut. Adapun redaksi niat yang dinilai baik diucapkan ketika mengeluarkan zakat fitrah untuk diri sendiri sebagai berikut :

ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَنْ أُﺧْﺮِجَ زَكَاةَ اﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ نَفْسِيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardhu karena Allah Ta’ālā”

Jika mengeluarkan zakat fitrah untuk orang lain maka cukup dengan menyebutkan nama orang dimaksud setelah kata “عَنْ” pada redaksi niat di bawah ini.

ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَنْ أُﺧْﺮِجَ زَكَاةَ اﻟْﻔِﻄْﺮِ ﻋَﻦْ . . . ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk . . .  (sebutkan nama), fardhu karena Allah Ta’ālā.”

Sementara redaksi ketika mengeluarkan zakat harta (زَكَاة الْمَالِ)  dari harta sendiri adalah :

ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَنْ أُﺧْﺮِجَ زَكَاةَ مَالِيْ ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat hartaku, fardhu karena Allah Ta’ālā.”

Di bawah ini redaksi ketika mengeluarkan zakat harta (زَكَاة الْمَالِ)  dari harta orang lain yang berada di bawah pengawasan dan kewenangannya.

ﻧَﻮَﻳْﺖُ أَنْ أُﺧْﺮِجَ زَكَاةَ مالِ . . . ﻓَﺮْﺿًﺎ ِﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ

“Aku niat mengeluarkan zakat hartanya . . .  (sebutkan nama), fardu karena Allah Ta’ālā.”

Etika yang harus diperhatika oleh para mustahiq (penerima zakat/ shodaqoh ialah berterima kasih serta mendo’akan muzakki (pezakat). Diantara do’a yang dianjurkan ulama untuk dibaca oleh mustahiq ketika menerima zakat/ shodaqoh adalah sebagai berikut :

آجَرَكَ اللَّهُ فِيْمَا أعْطَيْتَ وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوْرًا وَبَارَكَ لَكَ فِيْمَا أَبْقَيْتَ[3]

“Semoga Allah memberikan balasan pahala terhadap harta yang telah engkau berikan dan menjadikannya penyuci bagimu, dan semoga Allah memberikan keberkahan hartamu yang masih tersisa padamu”.

Doa’ di atas tidak lain implementasi dari perintah yang terdapat dalam al-Qur’an di bawah ini.

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Q.S. At-Taubah : 103)

Dan jika sekiranya melafalkan niat bagi muzakki ketika mengeluarkan zakatnya dan melafalkan do’a bagi mustahiq ketika menerima zakat dengan redaksi berbahasa Arab di atas menyulitkannya, maka mengucapkannya bisa digantikan dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah yang biasa digunakan sehari-hari. Demikian, semoga bermanfaat. Wallāhua’lam.

[1] Muhammad bin Ismā’il al-Bukhāri, Al-Buhkāri bi Hāsyiyah as-Sanadī, Juz II, (Surabaya : al-Hidayah, tanpa tahun) Hlm. 332.

[2] Hasan bin Ahmad al-Kaff asy-Syāfi’ī, at-Taqrīrāt as-Sadīdāt Fī al-Masā’il al-Mufīdah Qism al-‘Ibādāt (Surabaya : Dār al-Ulūm al-Islāmiyyah, 2006) Hlm. 421.

[3] An-Nawawi, Al-Adzkār an-Nawawiyyah, (Jakarta : Dar al-Kutub al-Islamiyyah, 2004) Hlm. 202

Artikel ini telah dibaca 113 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Kontroversi Penggunaan Obat Tetes Mata Ketika Sedang Berpuasa

10 Maret 2026 - 06:26 WITA

Kaffārah Bagi Suami Yang Melakukan Hubungan Intim Ketika Istri Sedang Haid

17 Februari 2026 - 11:12 WITA

Bolehkan Berkurban Dengan Kerbau ?

7 Februari 2026 - 19:43 WITA

Setelah Mandi Hadas Besar Tidak Harus Berwudhu

31 Januari 2026 - 20:38 WITA

Apakah Wajib Memandikan Anggota Tubuh Yang Diamputasi ?

16 Januari 2026 - 18:07 WITA

Apakah Anak Dari Saudara Sesusuan Masuk Kategori Mahram ?

22 November 2025 - 20:17 WITA

Trending di Konsultasi Islam