DESKRIPSI MASALAH :
Diantara hal yang sudah menjadi kodrat wanita ialah mengalami siklus haid. Secara biologis, siklus teratur haid merupakan petanda kesuburan wanita, sehingga wanita yang sudah memasuki masa menopause, tidak lagi dapat melakukan reproduksi. Dan sekalipun untuk tujuan haji dan umroh, wanita diperbolehkan mengkonsumsi pil penunda haid, tetapi bukan mustahil – sekalipun telah mengkonsumsi pil penunda haid – seseorang tetap mengalami siklus haid.
PERTANYAAN :
Apa yang dilakukan wanita yang mengalai haid sebelum ihram umroh ?
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Sebelumnya, baik untuk dicermati alur pelaksanaan umroh dari penjelasan imam An-Nawawi di bawah ini :
صفةُ الإحرامِ بالعُمرةِ كَـصِـفـتِـه فى الحَــجِّ فى اسْتحبابِ الغُسْلِ للإحرَامِ والتَّـطـيُّبِ والتَّـنـظِـيـفِ ومَا يَلْبَسُه وما يَحْرُمُ عليه مِنَ اللِّبَاسِ والتَّـطَـيُّـبِ والصَّيْدِ وغيرِ ذلكَ وفى اسْتحبابِ التَّلْبِيَةِ وغيرِ ذلكَ ممَّا سَبَقَ. فإنْ كانَ فى غَـيْرِ مَـكَّــةَ أحْرَمَ مِنْ مِيقَاتِ بلدِه حِيْنَ يـَبْـتَـدِئُ بالـسَّــيْرِ كما سَبَـقَ فى إحرامِ الحَجِّ، وإن كانْ فى مَـكَّـةَ وأرادَ العُـمــرةَ اسْتُحِبَّ له أنْ يَطُـوْفَ بالْبَيْتِ وَيُـصَـلِّيَ ركْـعَـتَـيْنِ وَلْيَسْتَلِمَ الْـحَـجَـرَ ثُمَّ يَخْـُـرُجُ مِنَ الحَــرَمِ إلى الحِلِّ فَيَغْتَسِلُ هُنَاكَ للإحْرَامِ ويَلْبَسُ ثَوْبَيِ الإحْـرَامِ ويُصَلِّى ركعتَيْنِ ويُحْـرم بالعـمــرةِ إذا سـارَ ويُلَبِّى، وكُلُّ هذِه الأمُــورِ على مَا سَبَـقَ فى الحَـجِّ، ولَا يَزَالُ يُلَبِّيُ حَتّى يَدْخُلَ مَكَّةَ فيبدأُ بالطَّوَافِ ويَقْطَعُ التَّلْبِيَةَ حِيْنَ يَشْـرَعُ فى الطَّـوَافِ فيَرْمُـلُ فى الطَّوفـَـاتِ الثَّلاَثِ الأُوَلِ من السَّبْعِ ويَمْشِي فى الأربعِ كمَا سَبَقَ فى طـوافِ القُــدُوْمِ ثُمَّ يَخْــرُجُ فَيَسْعى بَيْنَ الصَّفَا والْمَـــرْوَةِ كما وصَـفْـنَـاهُ فى الحَــجِّ، فَإذا تَمَّ سَعْيُهُ حـَلَّـقَ أوْ قَـصَّــرَ عِنْدَ الْمَــرْوَةِ. فإذا فَعَلَ ذلِك تَمَّتْ عُمْـرَتُهُ وحَـلَّ مِنْهَا حِــلًّا كَامِـلًا وَلَمْ يَـبْـقَ مِنْهُ شَيْءٌ.[1]
“Teknis ihram untuk umroh itu sama seperti teknis ihrom pada haji, dalam hal sunnahnya mandi (sebelum) ihram, mengenakan harum-haruman, bersih-bersih (diri dan pakaian), pakaian yang boleh digunakan, pakaian yang dilarang digunakan, larangan memakai parfum, larangan berburu dan lainnya, sunnahnya menucapkan tabiyah, dan lainnya sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Jika seseorang berada di luar Makkah, maka ia berihram (menjatuhkan niat) pada miqat daerahnya ketika ia memulai perjalanan (manasik) sebagaimana penjelasan tetah lalu pada ihram haji, namun jika ia berada di Makkah dan hendak berumroh, disunnahkan untuknya melakukan thawaf di baitullah, melaksanakan sholat dua raka’at, beristilam (menyentuh/mencium hajar aswad) kemudian keluar dari tanah haram menuju tanah halal, di sana ia mandi untuk ihram, mengenakan dua helai pakaian ihram, sholat dua raka’at, dan berihram (menjtuhkan niat) untuk umroh ketika mulai berangkat dan melafalkan talbiyah. Tiap-tiap hal ini sama seperti keterangan yang telah lalu dalam bab haji. Ia selalu melafalkan talbiyah sehingg ia memasuki Makkah dan memulai thawaf, ketika memulai thawaf ini ia menghentikan bacaan talbiyah, kemudian berjalan cepat dalam ketiga putaran pertama dari tujuh putaran, dan berjalan biasa pada keempat putaran (berikutnya) seperti keterangan pada thawaf qudum. Setelah itu ia keluar (dari tempat thawaf), dan melakukan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah seperti penjelasan yang telah kami sampaikan pada bab haji. Ketika selesai sa’i, lalu menggundul atau mencukur rambut di Marwah. Ketika hal itu telah dilakukan berarti sudah selesai umrohnya, terlepas sudah ia dari larangan umroh secara total serta tidak tersisa sedikitpun kewajiban (manasik) atasnya”.
Kembali pada pertanyaan di atas, sekalipun alur di atas menggambarkan pelaksanaan bagi laki-laki, namun berlaku pula bagi perempuan dalam hal kewajiban melaksanakan seluruh rangkaian rukun-rukun umroh. Oleh karenanya wanita yang mengalami haid sebelum ihram ia harus menjatuhkan niat umrohnya di miqat, dan bagi yang mengalami haid setelah ihram, ia tetap berada pada ketentuan ihram, sebab haid ataupun nifas tidak menghalangi wanita berihram. Hanya saja ia harus menahan diri dengan tidak melakukan thawaf dan sa’i, karena thawaf mensyaratkan suci dari hadas, baik hadas kecil maupun hadas besar. Begitu pula ia tidak boleh melakukan sa’i – sekalipun sa’i bisa dilakukan bagi orang yang berhadas – sebab, sa’i hanya bisa dilakukan setelah melakukan thawaf. Artinya wanita haid yang berada dalam masa ihram, ia tetap berkewajiban menjauhi larangan ihram seperti memakai parfum dll, hal ini harus dijaganya sampai ia suci dan mandi. Nah, jika kemudian ia telah bersuci, barulah ia meneruskan amaliyah umrohnya hingga tuntas yakni melakukan thawaf, kemudian sa’i dan mencukur rambut. Dengan melakukan hal tersebut secara sempurna dan berurutan, maka terlepaslah ia dari ihram dan tuntas sudah umrohnya.[2]
Demikian kiranya yang dapat penulis sampaikan untuk pertanyaan di atas, semoga bermanfa’at, wallāhua’lam.
Dijawab Oleh : Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
[1] An-Nawawī, dalam Hāsyiyah Ibn Hajar Al-Haitamī ‘alā Syarh Al-Īdhāh fī Manāsik Al-Hajj (Makkah : Maktabah Dār Al-Harrā’, tanpa tahun) Hlm. 425 – 426.
[2] https://www.islamweb.net/ar/fatwa/100930/%D9%87%D9%84-%D9%8A%D8%B5%D8%AD-%D9%84%D9%84%D8%AD%D8%A7%D8%A6%D8%B6-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B4%D8%AA%D8%B1%D8%A7%D8%B7-%D8%B9%D9%86%D8%AF-%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%AD%D8%B1%D8%A7%D9%85 diakses pada 28 Mei 2026, jam 16 : 40 WITA





