PELAKSANAAN AKAD NIKAH DI DALAM MASJID
Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI :
Di Indonesia, Menikah (pelaksanaan ijab-qabul) dapat dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA) dan tanpa biaya alias gratis selama dilaksanakan pada jam kerja. Tetapi sebagian Masyarakat menghendaki pelaksanaan akad nikah (ijab-qabul) di luar KUA sekalipun berbayar. Tidak hanya bisa dilakukan di rumah, atas permintaan keluarga mempelai, akad nikah bisa dilaksanakan di tempat lain termasuk di dalam Masjid.
PERTANYAAN :
Bagaimana hukumnya melaksanakan akad nikah di dalam Masjid?
JAWABAN :
Pertanyaan yang baik ! Fungsi Masjid sebagai sarana ibadah membuka lebar berbagai aktivitas ibadah dilaksanakan di dalamnya ; sholat, i’tikāf, ta’līm/ dakwah, dan sebagainya termasuk pelaksanaan akad nikah, baik jika dilaksanakan di dalam masjid. Berbeda dengan akad muamalah jual beli yang orientasinya keuntungan duniawiyah yang dilarang dilakukan di dalam Masjid, akad nikah yang merupakan gerbang sunnah dan barokah perlu ditempatkan pada tempat yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan yaktu Masjid. Anjuran pelaksanaan akad nikah di dalam Masjid diterangkan dalam kitab Hāsyiyah I’ānah at-Thālibīn :
(قولُه: وأنْ يكونَ الخ) … وَيُسَنُّ أنْ يكونَ العقدُ في المسجدِ. قال في التُّحْفَةِ : لِلْأَمْرِ بِه في خبَرِ الطَّبْرَانيِّ. اهـ. وهُوَ أعْلِنُوْا هذا النِّكاحَ، واجْعلُوهُ في المساجدِ، واضرِبُوْا عليهِ بالدُّفُوفِ، ولْيُوْلِمْ أحدُكمْ ولو بشَاةٍ، إلخ. وقال في شرحِه : قولُه أعلنُوا هذا النكاحَ، أي أظهِرُوهُ إظهارَ السُّرُورِ. وفرقًا بينَه وبينَ غيرِه واجْعلُوه في المساجدِ مُبالغَة في إظهارِه واشتهارِه، فإنهُ أعظمُ محافلِ الخيرِ والفضلِ.
“(Perkataan وأن يكون dst) . . . dan disunnahkan untuk melakukan akad nikah di dalam mesjid. Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitab Tuhfah “karena ada perintah hal tersebut dalam hadis riwayat Imam al-Thabrānī”. Hadisnya yaitu; Umumkanlah akad nikah itu, laksanakan ia di dalam mesjid, dan tabuhlah rebana untuknya, hendaknya salah satu dari kalian melakukan jamuan walaupun hanya dengan satu ekor kambing. Imam al-Thabrani beliau berkata dalam syarahannya, perkataan Nabi; umumkanlah akad nikah itu artinya tmapakkanlah pernikahan itu untuk menampakkan rasa senang dan bahagia, dan bertujuan untuk membedakan antara nikah dan selainnya, dan perkataan Nabi; lakukan ia dalam Masjid adalah bertujuan untuk lebih menampakkan kebahagiaan tersebut, dikarenakan Masjid adalah paling utamanya tempat kebaikan”[1].
Dengan demikian, sekalipun akad nikah dianjurkan pelaksanaannya di Masjid, tetapi menjaga kehormatan Masjid harus dikedepankan dengan cara tidak melakukan hal-hal yang diharamkan di dalamnya seperti mengganggu aktivitas ibadah orang lain, tidak menabuh rebana di dalam Masjid (cukup di luar Masjid), tidak adanya ikhthilāth (bercampurnya antara laki-laki dan perempuan), tidak mengotori Masjid dan lainnya. Wallāhua’lam.
[1] Muhammad Syatā ad-Dimyātī, Hāsyiyah I’ānah at-Thālibīn, Juz III, (Beirut : Dār Ibn ‘Ashshāshah, 2005) Hlm. 315-316





