Menu

Mode Gelap
KETENTUAN SHOLAT DI PESAWAT SUAMI MELARANG ISTRI MENGUNJUNGI ORANG TUANYA Tafsir Surat Al Baqoroh 271 Malam Senin 24 September 2023 // Ustadz KH. Tafsir. LC, MPdI Ngaji Syarah Bulughul Maram Bab Adzan (bag 2) 17 Sept 2023 // Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI Tafsir Al Baqoroh 270 Malam Senin 17 September 2023 // Ustadz KH. Tafsir. LC, MPdI

Konsultasi Islam · 31 Jul 2024 13:33 WITA

BACALAH AL-QUR’ĀN SESUAI URUTAN MUSHAF !


					BACALAH AL-QUR’ĀN SESUAI URUTAN MUSHAF ! Perbesar

Dijawab oleh Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.

DESKRIPSI :

Al-Qur’ān terdiri dari banyak surah, ada surah yang masuk kategori “الطِّوَال” yakni panjang dan banyak jumlah ayatnya, ada surah yang masuk kategori “المُفَصَّل” yakni pendek dan sedikit jumlah ayatnya, dan ada surah yang sedang jumlah ayatnya, antara kedua jenis surah di atas. Dalam sholat, setelah membaca surah al-Fātihah, bagi imam dan bagi makmum yang tidak mendengar bacaan imam (seperti sholat lirih di siang hari) serta bagi munfarid (orang yang sholat sendirian), disunnahkan membaca surah lainnya (setelah al-Fātihah). Memilih surah-surah dalam Al-Qur’ān sebaiknya mengikuti sunnah Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam, bukan semaunya .

 

PERTANYAAN :

Haruskah membaca surah setelah al-Fātihah dalam sholat menyesuaikan dengan tartib (urutan) mushaf al-Qur’ān ?

 

JAWABAN :

Pertanyaan yang baik !

Tartib surah al-Qur’ān mengandung hikmah dan mujkjizat, sehingga urutan surah ini harus dijaga. Melihat kebiasaan Rasulullāh dan salaf as-shālihīn ketika membaca al-Qur’ān, mereka mengikuti dan berdasarkan tartib surah pada mushaf al-Qur’ān, maka membaca al-Qur’ān menyalahi tartib surah pada mushaf al-Qur’ān hukumnya makruh. Dalam kitab At-Tibyān fī Ādāb Hamalah al-Qur’ān dijelaskan sebagai berikut :

قَالَ بعضُ أصحابِنا إذَا قرأَ في الرَّكعةِ الأُوْلى سورةَ (قلْ أعوذُ بربِّ النَّاسِ) يقْرَأُ في الثانيةِ بعدَ الفاتحةِ مِنَ البقرَةِ. قالَ بعضُ أصحابِنا: ويُستَحَبُّ إذا قرَأَ سورةً أنْ يقرَأَ بعدَها التي تَلِيْهَا، ودليلُ هذا أنَّ تَرْتِيْبَ المُصْحَفِ إنَّمَا جُعِلَ هكذا لحكمَةٍ، فينْبَغِي أن يُحَافِظَ عليها، إلَّا فِيْمَا وَرَدَ الشرعُ باستِثْنَائِه، كصلاة الصُّبْحِ يومَ الجمعةِ، يقرأُ في الأُوْلى سورةَ السَّجْدَةِ، وفي الثانيةِ (هَلْ أتى على الإنسانِ) وصلاةِ العِيْدِ فى الأولى (ق) وفي الثانية (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ) وركعَتَيْ سُنَّةِ الْفَجْرِ في الأُوْلى (قُلْ يا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ) وفي الثانيةِ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) ورَكَعَاتِ الوِتْرِ في الأُوْلى (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلى) وفي الثانيةِ (قُلْ يا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ) وفي الثالثةِ (قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ) وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ.[1]

“Sebagian ulama kami (Syāfi’iyyah) berkata : apabila seseorang membaca surah an-Nās pada raka’at pertama, hendaknya ia membaca surah al-Baqarah pada raka’at kedua. Sebagian ulama kami (Syāfi’iyyah) berkata : apabila seseorang telah membaca suatu surah, maka disunnahkan (jika ingin melanjutkan) membaca surah yang jatuh setelahnya. Dalil yang dapat dipedomani dalam hal ini adalah bahwa urutan (surah) pada mushaf al-Qur’ān itu tersusun sedemikian rupa, mengandung hikmah dan tujuan, maka seharusnyalah ia menjaga urutan itu kecuali dalam perkara yang dikecualikan dalam syari’at, seperti pada sholat subuh di hari Jum’at, disunnahkan membaca surah as-Sajdah pada raka’at pertama (setelah al-Fātihah) dan membaca surah al-Insān (ad-Dahr) pada rakaat kedua. Pada sholat hari raya (idul fitri dan idul adha) disunnahkan membaca surah Qāf pada raka’at pertama dan membaca surah al-Qamar pada raka’at kedua. Pada sholat (sunnah) sebelum subuh disunnahkan membaca surah al-Kāfirūn pada raka’at pertama dan membaca surah al-Ihklās pada raka’at kedua. Pada sholat witir disunnahkan membaca surah al-A’lā pada raka’at pertama, membaca surah al-Kāfirūn pada raka’at kedua dan membaca surah al-Ikhlās serta surah al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Nās) pada raka’at ketiga.”

Ketentuan membaca al-Qur’ān berdasarkan tartib (urutan) sebagaimana dalam mushaf al-Qur’ān, tidak hanya berlaku ketika berada dalam sholat, namun berlaku pula ketika di luar sholat, kecuali (boleh menyalahi tartib surah al-Qur’ān) bagi guru ketika mengajarkan al-Qur’ān kepada anak-anak untuk mudah dihapal atau mengajarkan mereka membaca al-Qur’ān pada hari yang berbeda-beda. Sedangkan membaca ayat demi ayat al-Qur’ān dari akhir/ belakang ke awal/ depan (membaca mundur) yakni menyalahi tartib ayat-ayatnya seperti membaca وَلَمۡ يَكُنۡ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ kemudian لَمۡ يَلِدۡ ۙ وَلَمۡ يُوۡلَدۡ kemudian اَللّٰهُ الصَّمَدُ‌ kemudian قُلۡ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ‌ dilarang dan hukumnya haram[2], wallāhua’lam.

[1] An-Nawawī, At-Tibyān fī Ādāb Hamalah al-Qur’ān (Surabaya : Al-Hidāyah, tanpa tahun) Hlm. 80.

[2] An-Nawawī, Ibid, Hlm. 81.

Artikel ini telah dibaca 51 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Kontroversi Penggunaan Obat Tetes Mata Ketika Sedang Berpuasa

10 Maret 2026 - 06:26 WITA

Kaffārah Bagi Suami Yang Melakukan Hubungan Intim Ketika Istri Sedang Haid

17 Februari 2026 - 11:12 WITA

Bolehkan Berkurban Dengan Kerbau ?

7 Februari 2026 - 19:43 WITA

Setelah Mandi Hadas Besar Tidak Harus Berwudhu

31 Januari 2026 - 20:38 WITA

Apakah Wajib Memandikan Anggota Tubuh Yang Diamputasi ?

16 Januari 2026 - 18:07 WITA

Apakah Anak Dari Saudara Sesusuan Masuk Kategori Mahram ?

22 November 2025 - 20:17 WITA

Trending di Konsultasi Islam