DESKRIPSI :
Qunūt dalam Islam disyariatkan, baik bagi orang yang sholat sendirian (munfarid) maupun bagi imam ketika berjama’ah. Yang diperselisihkan adalah kapan qunūt itu di baca.
PERTANYAAN :
Mengapa sebagian bacaan qunūt shubuh dibaca keras oleh imam sedangkan sebagian lainnya dilirihkan ?
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Untuk menjawab pertanyaan di atas, berikut di dalam kitab Nihāyah az-Zaīn dijelaskan :
(وَجَـهَـرَ به) أي القُنُوتِ (إِمَـامٌ) اسْتحبَابًا فى الجهْريَّةِ والسِّــِرّيَّـةِ كأنْ قَضى صُبْحًا أوْ وِتْرًا بعْدَ طلوعِ الشَّمْسِ (وَأَمَّنَ مَأْمُوْمٌ) للدُّعاءِ جَـهْـرًا إذَا جَـهَـرَ إمَامُهُ (سَـمِـعَ) أي المأمـومُ قُنُوْتَ الإمَامِ، ومِن الدُّعَاءِ الـصـلاةُ على رسـولِ اللهِ صَـلّى اللهُ عليه وســلَّـمَ وإنَّمَا طُلِبَ من الإمـامِ الجَـهْـرُ بالقُـنُـوْتِ فى السِّـرِّيَّة مَـعَ أنـهـا مـحـلُّ الجـهـرِ لأنَّ المقـصـودَ من الـقـنـوتِ الدعـاءُ وتأمـيْنُ الـقَـوْمِ عليه فَطُلِبَ الجـهـرُ لِيَسْمَعُوا فَيُؤَمِّنُوا ولا يُؤَمِّـنُ المـأمُـوْمُ للثَّنـاءِ بَلْ يُسَـنُّ أنْ يَقُـولَ ثَنـاءً سِــرًّا فَإنَّكَ تَقْضِـي إلى آخِـــرِه أوْ يَسْتَـمِعُ لهُ لأنَّـهُ ثَنـاءٌ وذِكْـرٌ لا يَليْقُ به التأمِيْنُ والمُـشَـاركةُ أَوْلى (وَكُـرِهَ لإمامٍ تَخْصِيْصُ نفسِه بدُعاءٍ) وإنما يُسَنُّ له أنْ يأتيَ بضمـيرٍ مُتَـكلِّمٍ ومعهُ غيرُه بأنْ يقولَ : اللـهُــمَّ اهْـدِنَا إلى آخِــرِه، لأنهُ يقـولُ عن نفسِه وعن المأمُومِـيْنَ. فلـوْ خَـصَّ الأمـامُ نفسَه بالقُـنُـوْتِ بأنْ لا يَأتِيَ بلـفـظ الجَـمْـعِ سُـنَّ للمأمـومِ التأمـيْنُ لأنهُ الـوارِدُ لَا القُـنُـوْتُ كما قالهُ الشِّـبرامـلـسيّ، وَيُسَـنُّ رفـعُ يديْهِ فى الـقـنـوتِ والأوْلى عَـدَمُ مـسْـحِ وجـهِـه بِهِـمَا[1]
“(dan mengeraskan) bacaan qunūt (imam itu) sebagai suatu kesunnahan di dalam sholat jahriyyah/siang dan pada sholat sirriyyah/malam seperti seseorang mengqadha’ sholat subuh atau mengqadha’ sholat witir yang dilakukan setelah matahari terbit (dan makmum mengamini) do’a qunūt itu dengan mengeraskan suaranya apabila imamnya mengeraskan suaranya (apa yang didengar) oleh makmum dari qunūt imamnya. Diantara kategori do’a ialah sholawat atas Rasulullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam. Dan sesungguhnya imam diminta mengeraskan suaranya ketika membaca qunūt pada sholat sirriyyah/siang karena tempatnya qunūt itu keras. Dikarenakan tujuan qunūt adalah berdo’a dan agar diamini oleh banyak orang, maka imam diminta mengeraskannya agar para makmum mendengar kemudian mengaminin. Makmum tidak perlu mengamini ketika imam membaca pujian/bukan do’a tetapi baginya disunnahkan mengucapkan pujian serupa secara lirih dengan mengatakan “فَإنَّكَ تَقْضِـي dan seterusnya” atau makmum cukup mendengarkan bacaan qunūt imam mengingat hal itu pujian dan dzikir yang tidak layak diamini, namun membaca sebagaimana bacaan imam itu lebih utama. (dimakruhkan bagi imam mengkhususkan dirinya sendiri ketika berdo’a) sesungguhnya disunnahkan bagi imam menyebutkan kata ganti diri sendiri sementara ada makmum di sisinya dengan mengucapkan “اللـهُــمَّ اهْـدِنَا dan seterusnya” karena dengan demikian ia mendo’akan dirinya sendiri sekaligus mendoakan para makmum. Andaikata imam mengkhususkan dirinya sendiri ketika membaca qunūt itu dengan tidak menyertakan kata ganti jamak, disunnahkan bagi makmum mengucapkan kata “āmīn” karena redaksi itulah sesuai hadis, dan tidak dianjurkan makmum mengucapkan qunūt sendiri-sendiri sebagaimana keterangan yang telah dijelaskan oleh imam Syibrāmalisī. Ketika qunūt itu disunnahkan mengangkat kedua tangan, dan yang lebih utama tidak mengusapkan kedua tangan ke wajah”.
Demikianlah kiranya penjelasan yang dapat diutarakan sebagai jawaban dari pertanyaan di atas, semoga bermanfaat, wallāhua’lam.
*Dijawab oleh Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
[1] Muhammad Nawawī al-Jāwī, Nihāyah az-Zaīn fī Irsyād al-Mubtadi’īn, (Indonesia : Al-Haramain, 2005) Hlm. 68.





