BACAAN GHARĪB IMAM ‘ĀSHIM (Q.S. HUD : 41)
Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI MASALAH :
Sebagai kitab suci, Al-Qur’ān selalu dibaca ummat Islam karena setiap huruf yang dibaca, mendatangkan pahala bagi pembacanya. Agar tidak terjadi kesalahan ketika membacanya, maka serius mempelajarinya secara talaqi (berhadapan langsung dengan guru) wajib hukumnya. Sekalipun dari mushaf al-Qur’ān yang sama, namun terdapat beragam variasi dalam membaca al-Qur’ān.
PERTANYAAN :
Bagaimana cara membaca imālah pada ayat وَقَالَ ارْكَبُوْا فِيْهَا بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰ۪ىهَا وَمُرْسٰىهَاۗ اِنَّ رَبِّيْ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ?
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Ya, dalam membaca al-Qur’ān terdapat varian yang sudah ada sejak masa Rasulullah SAW. Hal ini dapat terjadi mengingat banyaknya suku dan kabilah yang menggunakan dialek berbeda-beda sekalipun bahasa mereka satu yakni bahasa Arab. Ketika al-Qur’an harus disampaikan kepada mereka, Rasulullah menyampaikannnya dengan dialek yang mereka pergunakan, agar mereka mudah menerima al-Qur’an dan tidak mengalami kesulitan dalam membacanya. Dalam hadis, Rasulullah menjelaskan bahwa al-Qur’ān itu diturunkan atas “سبعة أحرف” (dengan beberapa varian bacaan). Hadis dimaksud adalah sebagai berikut :
أن عمر بن خطاب قال : سَمِعْتُ هِشَامَ بنَ حَكِيمِ بنِ حِزَامٍ يَقْرَأُ سُورَةَ الفُرْقَانِ في حَيَاةِ رَسولِ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فَاسْتَمَعْتُ لِقِرَاءَتِهِ، فَإِذَا هو يَقْرَأُ علَى حُرُوفٍ كَثِيرَةٍ لَمْ يُقْرِئْنِيهَا رَسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فَكِدْتُ أُسَاوِرُهُ في الصَّلَاةِ، فَتَصَبَّرْتُ حتَّى سَلَّمَ، فَلَبَّبْتُهُ برِدَائِهِ، فَقُلتُ: مَن أقْرَأَكَ هذِه السُّورَةَ الَّتي سَمِعْتُكَ تَقْرَأُ؟! قالَ: أقْرَأَنِيهَا رَسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فَقُلتُ: كَذَبْتَ؛ فإنَّ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قدْ أقْرَأَنِيهَا علَى غيرِ ما قَرَأْتَ، فَانْطَلَقْتُ به أقُودُهُ إلى رَسولِ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فَقُلتُ: إنِّي سَمِعْتُ هذا يَقْرَأُ بسُورَةِ الفُرْقَانِ علَى حُرُوفٍ لَمْ تُقْرِئْنِيهَا! فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: أرْسِلْهُ، اقْرَأْ يا هِشَامُ، فَقَرَأَ عليه القِرَاءَةَ الَّتي سَمِعْتُهُ يَقْرَأُ، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: كَذلكَ أُنْزِلَتْ، ثُمَّ قالَ: اقْرَأْ يا عُمَرُ، فَقَرَأْتُ القِرَاءَةَ الَّتي أقْرَأَنِي، فَقالَ رَسولُ اللَّهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: كَذلكَ أُنْزِلَتْ؛ إنَّ هذا القُرْآنَ أُنْزِلَ علَى سَبْعَةِ أحْرُفٍ، فَاقْرَؤُوا ما تَيَسَّرَ منه.[1]
Dari Umar bin Khatab ia berkata, “Aku mendengar Hisyam bin Hakim membaca surah al-Furqān di masa hidup Rasulullah. Aku perhatikan bacaannya, tiba-tiba ia membacanya dengan banyak huruf yang belum pernah dibacakan Rasulullah SAW kepadaku, sehingga hampir saja aku melabraknya di saat dia shalat, tetapi aku berusaha sabar menunggunya sampai salam. Setelah selesai, aku tarik selendangnya dan aku bertanya, “Siapakah yang membacakan (mengajarkan bacaan) surah itu kepadamu? Dia menjawab : Rasulullah yang membacakannya kepadaku ! Lalu aku katakan kepadanya: Dusta kau ! Demi Allah, Rasulullah telah membacakan juga kepadaku surah ini tidak dengan cara bacamu ! Kemudian aku bawa dia ke hadapan Rasulullah, dan aku berkata : Aku telah mendengar orang ini membaca surah al-Furqān dengan huruf-huruf yang tidak pernah engkau bacakan kepadaku ! Maka Rasulullah berkata: ‘ Lepaskan dia, wahai Umar. Bacalah surah tadi, wahai Hisyam ! Hisyam pun membacanya dengan bacaan seperti kudengar tadi. Maka Rasulullah SAW berkata : Begitulah surah itu diturunkan ! Rasulullah berkata lagi : Bacalah wahai Umar ! kemudian aku membacanya dengan bacaan sebagaimana Rasulullah mengajarinya kepadaku. Lalu Rasulullah berkata : begitulah surah itu diturunkan. Rasulullah melanjutkan dengan berkata : ‘Sesungguhnya Qur’ān itu diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah dengan huruf yang mudah bagimu”.
Berikutnya setelah qira’āh al-Qur’an mengalami perkembangan yang pesat, ulama ahli qirā’ah melakukan verifikasi yang akhirnya memunculkan riwayat qirā’ah yang shahīhah masyhūrah dengan sebutan “al-qirā’ah as-sab’ah” (qirā’ah tujuh imam). Adapun ketujuh imam dimaksud beserta dua nama rāwīnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini[2].
| NO. | NAMA IMAM | TEMPAT | NAMA RĀWĪ | |
| 1. | Nāfi’ | Madīnah | Qālūn | Warsy |
| 2. | Ibnu Katsīr | Makkah | Al-Bazzī | Qunbul |
| 3. | Abū ‘Amr | Bashrah | Ad-Dūrī | As-Sūsī |
| 4. | Ibnu ‘Āmir | Syām | Hisyām | Ibnu Dzakawān |
| 5. | ‘Āshim | Kūfah | Syu’bah | Hafsh |
| 6. | Hamzah | Kūfah | Khalf | Khalād |
| 7. | ‘Alī al-Kisā’ī | Kūfah | Abū al-Hārits | Hafsh ad-Dūrī |
Sekalipun ketujuh qirā’ah imam tersebut masyhur di kalangan ulama, tetapi qirā’ah yang berkembang pesat dan paling banyak diikuti di dunia Islam kini termasuk di Indonesia ialah qirā’ah Imam ‘Āshim, dengan rāwī Hafsh. Selanjutnya terkait dengan pertanyaan di atas, dalam qirā’ah ini (Imam ‘Āshim, dengan rāwī Hafsh) terdapat satu lafadz dalam al-Qur’ān yang dibaca imālah yaitu pada lafadz مَجْرٰ۪ىهَا yang terdapat pada surah Hud ayat 41. Bacaan imālah ini dikategorikan gharīb (bacaan langka), mengingat cara membacanya berbeda dan tidak sama dengan bentuk tulisannya. Adapun cara membaca مَجْرٰ۪ىهَا dalam qirā’ah imam ‘Āshim dengan rāwī Hafsh yaitu dengan taktsīr al-imālah pada huruf ra’ (ر) yakni lebih condong ke kasrah, bukan taqlīl al-imālah (yang lebih condong ke fathah)[3]. Ketika penulisan huruf e dalam bahasa Indonesia tidak dibedakan, namun cara melafalkannya terdapat perbedaan, maka perlu dijelaskan bahwa membaca imālah pada lafadz مَجْرٰ۪ىهَا di atas berdasarkan qirā’ah imam ‘Āshim- Rāwī Hafsh yaitu dengan ejaan huruf e sebagaimana pada kata “sore” dan “rene” (jawa ; ke sini !), bukan seperti ejaan e pada kata “bebek” dan “sendok”. Demikian penjelasannya, semoga bermanfaat,Wallāhua’lam.
[1] Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Shahīh Bukhārī, Juz III (Surabya : al-Hidayah, Tanpa Tahun) Hlm. 226-227.
[2] Muhammad Arwani Amin, Faidh al-Barakāt fī Sab’ al-Qirā’āt, Juz I (Tanpa Tempat : Maktabah Mubārakah Thayyibah, 2001) Hlm. 3.
[3] Mahmud Khalil al-Hushari, Ahkām Qirā’ah al-Qur’ān al-Karīm (Makkah : al-Maktabah al-Makkiyyah, 1996) Hlm. 326.














