BOLEHKAH NON MUSLIM MASUK MASJID ?
Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI MASALAH :
Masjid adalah tempat ibadah kebanggan umat Islam. Dalam sejarahnya ketika Rasulullah berhijrah dari Makkah al-Mukarramah ke Madinah al-Munawwarah (sebelumnya itu disebut Yatsrib), beliau tidak membangun rumah sebagai tempat tinggal, tetapi beliau terlebih dahulu membangun masjid yang kini dikenal dengan masjid nabawī. Sikap Rasulullah ini menunjukkan besarnya peran masjid bagi umat Islam, sehingga umat Islam harus menjaga eksistensi dan kehormatan masjid terlebih masjid al-harām Makkah, Masjid nabawī Madinah dan masjid al-Aqshā Palestina yang menjadi petilasan para Nabi, khususnya Rasulullah Muhammad SAW.
PERTANYAAN :
Bolehkah Non-Muslim masuk Masjid ?
Penanya : Taufikurrahman, Jembrana.
JAWABAN :
Pertanyaan yang baik !
Terdapat ayat secara spesifik yang melarang non muslim memasuki masjid al-harām Makkah, yaitu :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْمُشْرِكُوْنَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هٰذَاۚ وَاِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيْكُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖٓ اِنْ شَاۤءَۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (kotor jiwanya). Oleh karena itu, janganlah mereka mendekati Masjid al-harām setelah tahun ini. Jika kamu khawatir menjadi miskin (karena orang kafir tidak datang), Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Q.S. At-Taubah : 28).
Mengingat ayat di atas berisikan larangan non muslim memasuki masjid al-harām, maka untuk masjid selain masjid al-harām, ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskannya sebagai berikut :
قالَ الشَّافعِيُّ رضيَ اللهُ تعالى عنْهُ الكُفَّارُ يُمْنَعُوْنَ مِنَ المَسْجِدِ الحَرَامِ خَاصَّةً. وعندَ مالكٍ يُمْنَعُوْنَ مِنْ كُلِّ المَسَاجِدِ. وعندَ أبى َحِنيفةَ رحِمَهُ اللهُ لَا يُمْنَعُونَ مِنَ المسجدِ الحرامِ ولا مِنْ سائرِ المساجِدِ، والآيةُ بمنطوقِها تُبْطِلُ قولَ أبى حنيفةَ رحمه اللهُ وَبِمَفْهُومِهَا تُبْطِلُ قولَ مالكٍ.
“Imam Syāfi’ī – radhiyallāhu ‘anhu – mengatakan orang-orang non muslim itu dilarang (masuk) masjid al-harām saja. Menurut Imam Malik, mereka dilarang (masuk) masjid mana saja. Sedangkan menurut Imam Hanafī – rahimahullāh – mereka tidak dilarang (masuk) masjid al-harām begitu pula tidak dilarang (masuk) masjid-masjid lainnya. Sedangkan ayat (At-Taubah : 28) secara eksplisit (tersurat sesuai redaksi) membatalkan pendapat Imam Hanafī dan secara implisit (tersirat dibalik redaksi) menggugurkan pendapat Imam Malik”.
Tidak hanya masjid al-harām, menurut pendapat mayoritas ulama (jumhur), yang dimaksud dengan الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ pada ayat di atas ialah tanah haram. Dalil pendukung penafsiran ini ialah :
pertama ; tempat transaksi jual beli bukanlah di dalam masjid, jika saja maksud الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ pada ayat ini masjid al-harām, niscaya tidak menjadi kekhawatiran mereka (penduduk Makkah) menjadi miskin (karena orang kafir tidak mendatangi masjid al-harām), toh mereka dapat melakukan transaksi jual-beli di luar masjid.
kedua ; firman Allah :
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا . . .
“Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjid al-harām ke Masjid al-Aqshā . . . “ (Q.S. Al-Isrā’ : 1).
Pada ayat di atas disebutkan مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ (dari Masjid al-harām), sementara menurut mayoritas ulama’, Rasulullah diberangkatkan dalam perjalanan isra’ itu dari rumah Ummu Hāni’ (sepupu beliau).
ketiga ; sabda Rasulullah :
لَايَـجْـتَـمِــعُ دِيْــــــــنَـانِ في جَــزِيْــرَةِ الْــعَـرَبِ
“Jangan berkumpul dua agama (Islam dan lainnya) di Jazirah Arab”
Hadis Rasulullah SAW ini, menjadi isyarat bahwa agar non muslim itu tidak masuk ke masjid al-haram, maka mereka tidak boleh berdekatan di sekitar masjid al-haram yakni dalam batas tanah haram di mana masjid al-harām terletakk di tengahnya[1].
Nah, Jika cenderung kepada pendapat imam Syāfi’ī di atas, maka non muslim boleh saja masuk masjid mana saja kecuali masjid al-harām dan masjid-masjid yang barada dalam batas tanah haram Makkah. Kebolehan non muslim masuk masjid ini dengan syarat telah mendapat izin masyarakat muslim setempat (setidaknya oleh pengurus/takmir Masjid)[2]. Wallāhua’lam.
[1] Fakhruddīn ar-Rāzī, Mafātih al-Ghaīb, Juz XVI, (Mesir : al-Maktabah at-Taufīqiyyah, 2015) Hlm. 23.
[2] Badruddīn az-Zarkasyī, I’lām as-Sājid bi Ahkām al-Masājid (Beirut : Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995) Hlm. 120.





