Dijawab oleh Ust. Shohabil Mahalli, M.S.I.
DESKRIPSI :
Berbeda dengan sholat sunnah tarawih yang hanya bisa dilaksanakan pada malam Ramadhān, sholat sunnah witir dianjurkan tidak hanya di malam Ramadhān saja, tetapi ia sunnah dikerjakan setiap malam. Sebagai sholat sunnah malam, sholat sunnah witir hanya bisa dilaksanakan setelah melaksanakan sholat wajib ‘(isya’). Mengingat terdapat beberapa jenis sholat sunnah yang dapat dilakukan di malam hari, maka perlu adanya aturan sholat apa yang sebaiknya terlebih dulu dilakukan dan sholat apa yang mestinya diakhirkan.
PERTANYAAN :
Bolehkah melakukan sholah sunnah (tahajjud) setelah sholat sunnah witir ?
Penanya : Sukri, Loloan Timur.
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Pertanyaan di atas barangkali bermula dari pemahaman atas hadis Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam yang berbunyi :
اجْـعَـلُــوْا آخِـــرَ صَـــلَاتِـكُمْ بِاللَّـيْــلِ وِتْــرًا
“Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan shalat witir.”
Dalam ilmu ushūl al-fiqh, tidak selamanya kata kerja perintah (الأمــر) menunjukkan suatu kewajiban, termasuk amr (perintah) yang terdapat dalam hadis ini, dikarenakan adanya petunjuk lain yang bertentangan dengannya. Petunuk yang dimaksud dalam hal ini adalah riwayat sayyidah ‘Āisyah yang menyatakan :
أَنَّـهُ صّــلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَـلَّمَ كَانَ يُـصَــلِّى رَكْـعَـــــتَـيْنِ بَـعْــدَ الْــوِتْــرِ وَهُـوَ جَـــالـِسٌ
“Sesungguhnya Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam pernah melaksanakan sholat sunnah dua raka’at setelah melaksanakan sholat sunnah witir dalam keadaan duduk”.
Hadis di atas menunjukkan bolehnya melaksanakan sholat sunnah (tahajjud misalnya) setelah melaksanakan sholat sunnah witir sebelumnya. Adapun mengenai hadis yang menyatakan “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan shalat witir” berlaku bagi orang yang melaksanakan sholat sunnah witir di akhir waktu. Demikian yang dikatakan Ibnu Hajar al-‘Asqalānī dengan menukil pendapat An-Nawawī[1].
Jadi, jika seseorang telah sholat witir di awal waktu yakni setelah melaksanakan sholat isya’, baik di bulan Ramadhān maupun di luar bulan Ramadhān, kemudian ia terbangun di malam hari, terbuka baginya waktu untuk melaksanakan sholat sunnah (tahajud). Dan setelah melaksanakan sholat sunnah tahajjud, tidak perlu lagi ia mengulang sholat witirnya itu, karena sholat sunnah tahajjud tidak membatalkan sholat witir yang telah ia lakukan. Rasulullah bersabda :
لَا وِتْــرَانِ فِي لَيْـلَةٍ[2]
“tidak ada pelaksanaan shalat witir dua kali dalam satu malam”
Demikian jawaban dari pertanyaan di atas, wallāhua’lam.
[1] Ibnu Hajar al-‘Asqalānī, Fath al-Bārī bi Syarh Shahīh al-Bukhāri, Juz III (Beirut : Dār al-Fikr, 2000) Hlm. 164.
[2] Hasan Sulaimān an-Nūrī dan ‘Ālawī ‘Abbās al-Mālikī, Ibānah al-Ahkām Syahr Bulūgh al-Marām, Juz I (Beirut : Dār al-Fikr, tanpa tahun), Hlm. 395.














