Menu

Mode Gelap
KETENTUAN SHOLAT DI PESAWAT SUAMI MELARANG ISTRI MENGUNJUNGI ORANG TUANYA Tafsir Surat Al Baqoroh 271 Malam Senin 24 September 2023 // Ustadz KH. Tafsir. LC, MPdI Ngaji Syarah Bulughul Maram Bab Adzan (bag 2) 17 Sept 2023 // Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI Tafsir Al Baqoroh 270 Malam Senin 17 September 2023 // Ustadz KH. Tafsir. LC, MPdI

Konsultasi Islam · 28 Feb 2024 08:16 WITA

FIDYAH TIDAK PUASA ATAS IBU HAMIL DAN IBU MENYUSUI


 FIDYAH TIDAK PUASA ATAS IBU HAMIL DAN IBU MENYUSUI Perbesar

FIDYAH TIDAK PUASA WANITA HAMIL DAN IBU MENYUSUI

Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI

DESKRIPSI MASALAH :

Proses adapatasi terhadap perubahan hormonal tubuh membuat wanita hamil merasa berat untuk berpuasa terutama di awal masa kehamilan apalagi diserta rasa mual dan lebih berat dirasa oleh ibu menyusui untuk berpuasa sambil menyusui bayinya. Namun Islam sebagai agama rahmatan lil’ālamīn, memberikan jaminan kesehatan dan keselamatan sejak dini terhadap manusia, sehingga wanita hamil dan ibu menyusui – jika dipandang perlu – diperbolehkan tidak berpuasa di bulan Ramadhan.

 

PERTANYAAN :

Bagaimana ketentuan wanita hamil dan ibu menyusui ketika tidak berpuasa Ramadhan ?

Penanya : Bu Nikmah, Yogyakarta

 

JAWABAN :

Pertanyaan baik !

Kaidah dalam yurisprudensi islam menyatakan “الـمَــشَـقَّــةُ تَــجْــلِـبُ الـتَّـيْـسِــيْرَ” bahwa keadaan sulit itu mendatangkan kemudahan. Sehingga setiap kesulitan itu mendatangkan kemudahan hukum ; orang yang sedang bepergian jauh boleh menjama’ dan mengqoshor sholatnya, membatalkan puasanya, orang sakit diperbolehkan tidak berpuasa. Nah, wanita hamil dan ibu menyusui disamakan dengan orang yang sakit dan orang musafir dalam hal bolehnya tidak berpuasa Ramadhan. Bahkan bisa dihukumi haram memaksakan berpuasa atas mereka apabila dengan berpuasa itu dapat memperburuk keadaan dirinya atau bayi yang disusuinya atau janin dalam rahimnya. Prof. Dr. Wahbah Zuhailiī menjelaskan masalah ini dalam al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū :

يُبَــاحُ للـحــامِـلِ والمـُرْضِـع الإفــطَـارُ إذاخـافـتَــا عـلى أنفُسِهِمَا أو على الـولدِ سواءٌ أكــانَ الـولدُ وَلَدَ المــرضِـعَـةِ أمْ لا أي نسبًا أو رَضاعًــا، وسواءٌ أكانتْ أُمًّـا أوْ مستأجـَـرَةً، وكان الـخــوفُ نُـقـصــانَ الـعـقْـلِ أو الــهـلاكَ أو المــرَضَ، والـخـوفُ المـعـتـبَرُ : مَـا كان مستنِدًا لِـغـلبةِ الـظَّـنِّ بِتَجْــرِبَـةٍ سابـقَــةٍ أو إخـبـارِ طبيبٍ مسـلمٍ حـاذقٍ عـدلٍ. ودليلُ الجوازِ لهما الـقِـيَــاسُ على المـريضِ والمُسَافِــرِ، وقــولُه صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ “إنَّ اللهَ عــزَّ وجــلَّ وضـع عن المُسافِــرِ الصــومَ وشطـرَ الصــلاةِ وعَنِ الْحَبْــلى والمـرضعِ الــصَّــوْمَ” ويحــرُمُ الصَّـومُ إن خافت الحامـلُ أو المرضـعُ على نفسِها أو ولدِها الـهـَـلاكَ. وإذا أفطـرَتَا وجب القضـاءُ دونَ الفِدْيَة عندَ الحنفيةِ ومع الفديةِ إنْ خافتا على ولدِهما فقط عندَ الشَّافعيَّةِ والحنابلةِ ومع الفِدْيَةِ على المُـرْضِـعِ فقط لا الحامـلِ عندَ المالكيَّـةِ

“Dibolehkan bagi wanita hamil dan ibu menyusui tidak berpuasa (Ramadhan) apabila keduanya khawatir atas dirinya sendiri atau atas anaknya, baik anaknya itu anaknya sendiri (secara nasab) atau anak orang lain (anak susuan). Sama saja baik anak itu disusui oleh ibunya sendiri atau oleh wanita yang dibayar (menyusui), kekhawatiran itu bisa berdampak pada terganggunya perkembangan akal, atau merusak anak/ janin atau dapat menyebabkan sakitnya anak/ janin. Yang menjadi ukuran kekahwatiran itu harus bersumber dari dugaan yang meyakinkan dari penelitian telah lalu atau pernyataan dokter spesialis muslim yang terpercaya. Alasan yang membolehkan wanita hamil dan ibu menyusui (tidak berpuasa Ramadhan) adalah dengan jalan mengqiyaskannya kepada orang sakit dan musafir (orang dalam perjalanan jauh) dan adanya hadis Rasulullah yang berbunyi “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menggugurkan kewajibkan puasa untuk orang musafir dan memberi keringanan separoh (qashr) shalat untuknya dan Allah menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita hamil dan ibu menyusui”. Haram hukumnya memaksakan diri berpuasa atas wanita hamil atau ibu menyusui apabila dapat mendatangkan kebahayaan atas dirinya atau anak/ janinnya. Apabila keduanya (wanita hamil dan ibu menyusui) tidak berpuasa, maka wajib atas keduanya mengqodho’ puasa, tidak perlu membayar fidyah menurut madzhab Hanafi, wajib mengqodho’ puasa dan membayar fidyah (seukuran 1 mud tiap satu kali tidak berpuasa) jika keduanya tidak berpuasa karena khawatir atas anak/ janinnya dalam madzhab Syafi’i dan madzhab Hanbali, mengqodho’ dan membayar fidyah hanya berlaku atas ibu menyusui saja, tidak berlaku bagi wanita hamil dalam madzhab Maliki”[1].

Dalam madzhab Syafi’i, wanita hamil dan ibu menyusui yang tidak berpuasa Ramadhan dibagi ke dalam dua kategori :

  1. Wanita hamil dan ibu menyusui karena khawatir keadaannya itu membuatnya sakit yang membolehkan bertayammum (sebagai pengganti wudhu’) jika ia memaksakan diri berpuasa, maka dalam keadaan seperti ini wanita hamil dan ibu menyusui, keduanya dibolehkan tidak berpuasa dengan kewajiban mengganti puasanya saja (tanpa membayar fidyah).
  2. Wanita hamil mengkhawatirkan keadaan buruk menimpa janinnya seperti terjadinya keguguran dan ibu menyusui mengkhawatirkan keadaan buruk menimpa bayinya seperti bayi kekurangan ASI apabila ia memaksakan diri berpuasa, maka dalam kondisi seperti ini wanita hamil dan ibu menyusui keduanya dibolehkan tidak berpuasa dengan kewajiban mengganti puasanya dan membayar fidyah[2].

Dengan demikian wanita hamil dan ibu menyusui selama masih bisa berpuasa, maka sebaiknya tetap berpuasa. Tetapi apabila kondisi dirasakan membahayakan dirinya atau janin/anaknya, maka dipersilahkan untuk tidak berpuasa dengan konsekuensi sebagaimana penjelasan di atas. Demikian penjelasan atas pertanyaan di atas, semoga bermanfaat,Wallāhu a’lam.

[1] Wahbah Zuhailī, al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuhū, Juz II (tanpa tempat : tanpa penerbit, tanpa tahun), Hlm. 646-647.

[2] Abū Bakr Syathā ad-Dimyāthī, I’ānah ath-Thālibīn, Juz II, (Beirut : Dār Ibn ‘Ashāshah, 2005), Hlm. 273.

Artikel ini telah dibaca 84 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Kontroversi Penggunaan Obat Tetes Mata Ketika Sedang Berpuasa

10 Maret 2026 - 06:26 WITA

Kaffārah Bagi Suami Yang Melakukan Hubungan Intim Ketika Istri Sedang Haid

17 Februari 2026 - 11:12 WITA

Bolehkan Berkurban Dengan Kerbau ?

7 Februari 2026 - 19:43 WITA

Setelah Mandi Hadas Besar Tidak Harus Berwudhu

31 Januari 2026 - 20:38 WITA

Apakah Wajib Memandikan Anggota Tubuh Yang Diamputasi ?

16 Januari 2026 - 18:07 WITA

Apakah Anak Dari Saudara Sesusuan Masuk Kategori Mahram ?

22 November 2025 - 20:17 WITA

Trending di Konsultasi Islam