MANDI HADAS BESAR SETELAH SUBUH DI BULAN RAMADHĀN
Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI MASALAH :
Jika ibadah-ibadah lainnya mudah diketahui, berbeda halnya dengan ibadah puasa. Ibadah yang satu ini merupakan ibadah yang tidak tampak, karena tidak ada orang yang dapat mengetahui secara pasti puasa orang lain. Tetapi sebagai suatu ibadah, terdapat banyak aturan di dalam puasa yang harus diketahui.
PERTANYAAN :
Bagaimana hukum puasa orang yang mandi hadas besar setelah masuknya subuh di bulan Ramadhān?
Penanya : Rijal, Tuwed – Melaya.
JAWABAN :
Pertanyaan baik !
Mulanya, pada masa awal Islam berhubungan seksual pasutri pada malam hari ketika telah berpuasa di siang harinya jika dilakukan setelah tidur atau sesudah sholat isya itu’ dilarang sebagaimana ketentuan yang berlaku pada syariat sebelum Islam. Tetapi setelah itu, larangan tersebut dicabut. Menurut jumhur mufassirin, ayat yang menaskh (menghapus) hukum tersebut adalah :
اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
“Dihalalkan bagimu pada malam puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkanmu. Maka, sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian, sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Akan tetapi, jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beriktikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa”. (Q.S. Al-Baqarah : 187).
Imam ar-Rāzī berkata :
أَنَّه ذَهبَ جُـمْهــورُ المُفَسِّـــــرِينَ إلى أنَّ فى أوَّلِ شَـرِيـعـةِ محمَّدٍ صَلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ كانَ الصّآئِــمُ إذَا أفطَرَ حَلَّ لَهُ الأكْلُ والشُّرْبُ والوِقَاعُ بشــرْطِ أنْ لا ينامَ وأنْ لا يُصَــلِّىَ العِـشآءَ الأخِــيرةَ فإذا فعلَ أحدَهُــمَا حَــرُمَ عليهِ هذِه الأشياءُ، ثُمَّ إنَّ اللهَ تـعـــالى نَسَخَ ذلكَ بهذِه الآيةِ[1].
“Sesungguhnya mayoritas ahli tafsir al-Qur’an berpendapat bahwa pada masa awal syariat Islam, apabila orang yang berpuasa telah berbuka, ia boleh makan, minum dan berhubungan badan suami istri selama ia belum tidur dan belum mendirikan sholat isya’. Apabila ia telah melakukan salah satu dari kedua hal ini (tidur atau sholat isya’), maka ia dilarang melakukan makan, minum serta berhubungan badan. Tetapi kemudian Allah ta’ālā menghapus ketentuan tersebut dengan ayat ini”.
Ketika diperbolehkan berhubungan seks di malam hari, yang mana batasan malam itu dimulai sejak maghrib hingga subuh, hal ini berdampak pada orang yang melakukan hubungan badan bersama pasangannya, di mana ia masih dalam keadaan junub ketika adzan subuh dikumandangkan. Maka dalam kasus seperti ini, orang yang bersangkutan segera mandi, sholat dan menjalani puasanya sebagaimana mestinya, tidak perlu ia mengqodho’ puasanya, karena puasanya tercatat sah.
Suatu ketika sahabat Sulaiman bin Yasar bertanya kepada Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW tentang seseorang yang masih dalam keadaan junub sementara waktu sudah subuh, apakah orang tesebut bisa melanjutkan puasanya. Ummu Salamah berkata :
كَانَ رسـولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليْهِ وسّــلَّمَ يُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ غيْرِ احْتِــلَامٍ، ثُمَّ يَصُــوْمُ[2]
“Rasulullah shallalāhu ‘alaihi wasallam pernah masih dalam keadaan junub bukan karena mimpi (basah) pada waktu subuh, kemudian beliau tetap berpuasa”.
Di dalam Kitab Ibānah al-Ahkām Syahr Bulūgh al-Marām, Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki menjelaskan beberapa kandungan hadis di atas :
- Boleh melakukan hubungan seks bagi pasangan suami istri di malam bulan Ramadhān.
- Orang yang masih dalam keadaan junub pada waktu subuh, sah puasanya tanpa harus mengqodhō’nya.
- Boleh menunda mandi hadas besar bagi orang yang junub sekalipun hingga lewat waktu subuh, tetapi segera mandi sebelum subuh itu lebih baik.
- Sama halnya dengan perempuan haid dan nifas ketika darah haid atau nifasnya sudah terhenti (suci) di malam hari, sementara mandi hadas besar dilakukan setelah subuh, puasanya tetap sah.
- Diantara sifat ma’shūm (terjaga) Rasulullah dari godaan dan pengaruh syetan ialah beliau tidak pernah mengalami ihtilām (mimpi basah)[3].
Demikian penjelasan dari pertanyaan di atas, semoga bermanfaat,Wallāhua’lam
[1] Fakhr ad-Din ar-Razi, Mafātih al-ghaīb, Juz V (Mesir : Al-Maktabah at-Taufīqiyyah, 2015) Hlm. 93.
[2] An-Nawawi, Shahīh Muslim bi Syarh an-Nawawī, Juz VII (Kairo : Dār al-Ghadd al-Jadīd, 2008) Hlm. 193.
[3] Hasan Sulaiman An-Nuri dan Alawi Abbas Al-Maliki, Ibānah al-Ahkām Syahr Bulūgh al-Marām, Juz II (Beirut : Dār al-Fikr, tanpa tahun), Hlm. 314-315.














