Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI MASALAH :
Surah yang paling sering dibaca dan didengar adalah surah al-Fātihah. Al-Qur’an menjuluki surah al- al-Fātihah dengan “سَبْعاً مِنَ الْمَثانِي” yang artinya surah yang dibaca berulang-ulang ketika sholat, sehingga surah al-Fātihah ini menjadi rukun qoulī (rukun berupa bacaan yang harus diucapkan pada lisan). Hanya saja huruf mīm pada lafadz “مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ” yang biasa dibaca panjang, tetapi terkadang ada yang membacanya dengan pendek.
PERTANYAAN :
Bagaimana cara yang benar dan tepat ketika membaca huruf mīm pada ayat ke 4 surah al-Fātihah tersebut?
JAWABAN :
Pertanyaan baik sekali ! pertanyaan mengenai ilmu qirō’at al-Qur’an (varian membaca al-Qur’an) ini mengharuskan untuk membuka kembali catatan fakta sejarah kondisi ketika al-Qur’an diturunkan pada bangsa Arab ketika itu. Mereka (bangsa Arab) terdiri dari kabilah-kabilah dan suku-suku yang sekalipun bahasa mereka sama yakni bahasa Arab, tetapi antara satu dengan yang lainnya menggunakan dialek (cara ucap yang unik) yang berbeda-beda. Keterangan ini didasarkan pula dari peristiwa saling bantah antara sahabat ‘Umar bin Khaththāb dengan Hisyām bin Hakīm, sahabat ‘Umar berkata :
سمِعتُ هشامَ بنَ حَكيمِ بنِ حزامٍ يقرأُ سورةَ الفرقانِ ، فقرأَ فيها حُروفًا لم يَكُن نبيُّ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ أقرأَنيها ، قُلتُ : مَن أقرأَكَ هذِهِ السُّورةَ ؟ قالَ : رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ، قُلتُ : كذبتَ ، ما هَكَذا أقرأَكَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ! فَأخذتُ بيدِهِ أقودُهُ إلى رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ، فقلتُ : يا رسولَ اللَّهِ ! إنَّكَ أقرأتَني سورةَ الفرقانِ ، وإنِّي سمِعتُ هذا يقرأُ فيها حروفًا لم تَكُن أقرأتَنيها ! فقالَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ : اقرأ يا هشامُ . فقرأَ كما كانَ يقرأُ ، فقالَ رسولُ اللَّهِ : هَكَذا أُنْزِلَت . ثمَّ قالَ : اقرَأ يا عمرُ . فقرأتُ ، فقالَ : هَكَذا أُنْزِلَت . ثمَّ قالَ رسولُ اللَّهِ : إنَّ القرآنَ أُنزِلَ علَى سَبعةِ أحرُفٍ
Aku mendengar Hisyām bin Hakīm bin Hizām membaca surat al-Furqān tidak seperti bacaan (qirō’at) yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bacakan kepadaku. Aku bertanya kepadanya “Siapa yang mengajarimu membaca surah ini? Hisyām berkata “Rasulullah (yang mengajariku)”, aku berkata (padanya) “bohong engkau, tidak seperti ini yang Rasulullah bacakan kepadamu”, kemudian kupegang bajunya, lalu kubawa dia ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan aku berkata “Wahai Rasulullah, engkau telah mengajariku membaca surah al-Furqān, tetapi aku mendengar orang ini membaca surat al-Furqān tidak seperti yang engkau bacakan kepadaku”. Rasulullah berkata “bacalah wahai Hisyām”, Lalu Hisyām membacakan kembali seperti yang dibacanya tadi. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Memang seperti inilah ia diturunkan” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “bacalah wahai Umar”, Lalu akupun membacanya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, ayat ini memang diturunkan seperti ini. Sesungguhnya al- Qur’an itu diturunkan dengan tujuh huruf (tujuh dialek bahasa). (H.R. an-Nasā’i)
Dari Hadis di atas, dapat dipahami bahwa dialek-dialek bangsa Arab sudah diakui sejak masa Rasulullah dan telah dijadikan cara baca yang dibenarkan untuk membaca al-Qur’an. Hal ini menjadi kemudahan setiap orang ketika itu untuk membaca al-Qur’an sebagai salah satu bentuk ibadah. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, mengingat banyaknya riwāyat qirō’āt yang berbeda-beda, maka ulama’ ahli qirō’āt al-Qur’an melakukan verifikasi berdasarkan kriteria yang ketat yang akhirnya memunculkan al- qirō’āt as-sab’ (qirō’āt tujuh) dengan tujuh imam yaitu imam Nāfi’, Ibnu Katsīr, Abū ‘Amr, Ibnu ‘Åmir, ‘Åshim, Hamzah, Alī al-Kisā’ī.
Nah, imam Åshim dan imam Alī al-Kisā’ī membaca huruf mīm pada ayat “مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ” dengan mad (panjang), sedangkan imam lainnya membacanya dengan pendek. (Arwani Amin Kudus, Faidh-al-Barakāt fī Sab’-al-Qirā’āt, Juz I). Dengan demikian membaca panjang atau pendek huruf mīm pada ayat “مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ” kedu-duanya dibenarkan. Sekalipun demikian sebaiknya dipilih bacaan yang sudah biasa digunakan di masing-masing daerah. Jika di Indonesia masyarakatnya sudah biasa membaca al-Qur’an dengan menggunakan qirō’āt imam ‘Åshim, maka sebaiknya dan sebijaknya kita membaca mīm pada ayat “مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ” dengan mad (panjang),Wallāhua’lam.














