MAKAN BUAH SEBELUM MAKAN
Dijawab oleh Ustadz Al Hafidz Shohabil Mahalli, MSI
DESKRIPSI MASALAH :
Islam mengamanahkan ummatnya untuk menghormati tamu yang datang ke rumahnya. Cara menghormati tamu tidaklah sama antara satu orang dengan yang lainnya, mengingat kemampuan tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Begitu pula kebiasaaan menyuguhkan makanan antara satu daerah dengan daerah lainnya tidaklah sama caranya. Ada yang menyuguhkan makanan utama terlebih dahulu, dan ada pula sebaliknya, buah-buahan terlebih dahulu, kemudian disusul dengan makanan utama.
PERTANYAAN :
Manakah lebih baik, makanan utama ataukah buah-buahan disuguhkan terlebih dahulu?
JAWABAN :
Pertanyaan baik sekali ! benar adagium yang mengatakan “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, artinya masing-masing daerah memiliki budaya, adat serta kebiasaaan yang tidak sama. Dan untuk hal ini, perlu dikedepankan ayat al-Qur’an yang berbunyi :
وَفَاكِهَةٍ مِمَّا يَتَخَيَّرُونَ (20) وَلَحْمِ طَيْرٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ (21)
”Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih. dan daging burung dari apa yang mereka inginkan”. (Q.S. Al-Wāqi’ah 20-21)
Ayat di atas mengandung beberapa pelajaran yaitu :
Pertama ; Jika melihat rentetan ayat sebelumnya, ayat di atas berbicara tentang keadaan ahli surga dengan bermacam kenikmatan di dalamnya. Jika di dunia kebiasaaan sebagian orang memakan buah terlebih dahulu sebelum memakan daging, maka seolah-olah ayat ini menjelaskan cara dan pola makan penghuni surga di akhirat demikian pula.
Kedua ; selain buah-buahan itu lebih mudah dicerna dalam system metabolisme tubuh manusia, buah juga dapat merangsang selera makan. Sehingga lebih tepat apabila makan buah sebelum memakan daging atau makanan utama.
Ketiga ; Manusia ketika dahaga lebih memilih buah daripada daging mengingat unsur air yang dikandung dalam buah itu cukup banyak. Maka penyebutan buah-buahan lebih didahulukan daripada penyebutan daging (pada ayat di atas). Hal ini menunjukkan seolah-oleh penduduk surga itu merasakan sedikit dahaga dari pada rasa lapar (Fakhruddīn ar-Rāzī, Mafātih al-Ghaib, Juz XXIX, Halaman 149-150).
Sesuai dengan pertanyaan di atas, maka cukuplah kiranya penafsiran pada item kedua di atas menjadi pedoman bagi kita dalam mengatur pola makan baik untuk diri sendiri sehari-hari maupun menjamu tamu dalam suatu acara. Sebab hal ini diakui faedahnya dalam dunia kesehatan dan gizi, di mana system metabolisme tubuh manusia dapat menyeimbangkan makanan berat apabila ia disantap setelah memakan buah-buahan terlebih dahulu, Wallāhua’lam.














